Budaya Bali

7 Feb

Budaya Bali

(Kompetensi Budaya Bali Populer Dalam Era Globalisasi)

 

 

MAKALAH

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh:

 

Ketua         : Ni Made Chyntia Trisna Eva Dewi    (XI IPS/07)

 

 

 

 

 

 

 

 

SMA Negeri 1 Denpasar

Tahun Ajaran 2011/2012

 

 

KATA PENGANTAR

 

 

Om Swastyastu,

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sang HyangWidhi Wasa, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan Makalah dengan judul ”Budaya Bali (Kompetensi Budaya Bali Populer Dalam Era Globalisasi”. Makalah ini disusun dalam rangka menyelesaikan tugas Bahasa Bali semester 1.

Dalam kesempatan ini penyusun menyampaikan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada pihak yang telah mendukung penyelesaian makalah ini. Terutama kepada:

1.    Orang tua yang telah menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung penyelesaian makalah ini.

2.    Guru pembimbing.

Seperti kata pepatah, tiada gading yang tak retak, yang artinya tiada makhluk yang sempurna di dunia ini. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari segenap pembaca sehingga makalah ini dapat digunakan dengan baik. Harapan penyusun semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan menambah pengetahuan terutama bagi penyusun serta bermanfaat bagi dunia pendidikan.

Denpasar, 10 September 2011

Penyusun

DAFTAR ISI

 

Halaman Judul………………………………………………………………….   ..1

Kata Pengatar……………………………………………………………………..2

Daftar Isi………………………………………………………………………….3

Bab 1. Pendahuluan

1.1  Latar Belakang……………………………………………………….4

1.2  Tujuan………………………………………………………………..4

Bab 2. Kajian Pustaka

2.1 Tinjauan Tentang Bali……….………………………………………5

2.2 Tinjauan Tentang Budaya…..……………………………………….6

2.3 Tinjauan Tentang Unsur-unsur Budaya Bali………………………..6

2.4 Tinjauan Tentang Nilai-nilai Budaya……………………………….9

Bab 3. Pembahasan

            3.1 Kebudayaan Bali……………………………………………………10

3.2  Implementasi Nilai-nilai Luhur Budaya Bali………………………11

3.3  Kompetensi Budaya Bali Populer Dalam Era Globalisasi…………17

Bab 4. Implikasi dan Rekomendasi

4.1 Implikasi…………………………………………………………….26

4.2 Rekomendasi………………………………………………………..26

Daftar Pustaka…………………………………………………………………..27

Lampiran Gambar………………………………………………………………28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang

 

Dunia modern identik dengan dunia global. Kemampuan masyarakat Bali untuk mengadaptasi tradisinya untuk konteks globalisasi juga berarti kompetensi mereka dalam menyaring budaya global sehingga relevan dengan tradisi yang ada. Dalam proses itu terjadi secara simultan modernisasi budaya Bali dan balinisasi budaya modern atau pembalian budaya global dan pengglobalan budaya Bali.

Penulis mencoba untuk mengkaji dimana letak unsur budaya Bali yang berkompeten dalam era globalisasi ini. Dalam makalah ini akan disampaikan tinjauan tentang kebudayaan Bali, unsur-unsur, serta implementasinya di kehidupan global.

1.2 Tujuan

 

Tulisan ini bertujuan untuk menambah wawasan pembaca budaya Bali beserta unsur-unsurnya sebagai bagian utama penyokong pariwisata Bali. Dimana pengaplikasian kolaborasi antarunsur-unsur Budaya Bali sebagai pedoman masyarakat Bali serta Ideologi Pancasila sebagai pandangan Hidup bangsa dan negara akan mewujudkan generasi muda yang berakhlak mulia dan peduli dengan eksistensi bangsa dan negaranya.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

 

2.1     Tinjauan Tentang Bali

 

2.1.1  Sejarah Bali

Bali berasal dari kata “Bal” dalam bahasa Sansekerta berarti “Kekuatan”, dan “Bali” berarti “Pengorbanan” yang berarti supaya kita tidak melupakan kekuatan kita. Supaya kita selalu siap untuk berkorban. Bali mempunyai 2 pahlawan nasional yang sangat berperan dalam mempertahankan daerahnya yaitu I Gusti Ngurah Rai dan I Gusti Ketut Jelantik.

Bali adalah nama salah satu provinsi di Indonesia dan juga merupakan nama pulau terbesar yang menjadi bagian dari provinsi tersebut. Selain terdiri dari Pulau Bali, wilayah Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau yang lebih kecil di sekitarnya, yaitu Pulau Nusa Penida, http://id.wikipedia.org/wiki/Nusa_Lembongan”>Pulau Nusa Lembongan, Pulau Nusa Ceningan dan http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Serangan”>Pulau Serangan.

Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Ibukota provinsinya ialah Denpasar yang terletak di bagian selatan pulau ini. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_Hindu_Dharma”>Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya, khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Bali juga dikenal dengan sebutan Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura.

2.1.2  Deskripsi Lokasi

Pulau Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil yang beribu kota Denpasar. Tempat-tempat penting lainnya adalah Ubud sebagai pusat seni terletak di Kabupaten Gianyar, sedangkan Kuta, Sanur, Seminyak, dan Nusa Dua adalah beberapa tempat yang menjadi tempat tujuan pariwisata, baik wisata pantai maupun tempat peristirahatan. Suku bangsa Bali dibagi menjadi 2 yaitu: Bali Aga (penduduk asli Bali biasa tinggal di daerah trunyan), dan Bali Mojopahit (Bali Hindu / keturunan Bali Mojopahit).

2.2     Tinjauan Tentang Budaya

          Secara harfiah, budaya berarti kebiasaan yang terus menerus serta menjiwai seluruh aspek kehidupan tertentu. Menurut Supardi Suparlan, budaya adalah sistem ide (gagasan) milik bersama yang dipakai sebagai pedoman dalam kehiduapan masyarakat.

 

2.3     Tinjauan Tentang Unsur-unsur Budaya Bali

 

2.3.1  Bahasa
Bali sebagian besar menggunakan bahasa Bali dan bahasa Indonesia, sebagian besar masyarakat Bali adalah bilingual atau bahkan trilingual. Bahasa Inggris adalah bahasa ketiga dan bahasa asing utama bagi masyarakat Bali yang dipengaruhi oleh kebutuhan industri pariwisata. Bahasa Bali di bagi menjadi 2 yaitu, bahasa Aga yaitu bahasa Bali yang pengucapannya lebih kasar, dan bahasa Bali Mojopahit, yaitu bahasa yang pengucapannya lebih halus.
2.3.2  Pengetahuan

Banjar atau bisa disebut sebagai desa adalah suatu bentuk kesatuan-kesatuan sosial yang didasarkan atas kesatuan wilayah. Kesatuan sosial tersebut diperkuat oleh kesatuan adat dan upacara keagamaan. Banjar dikepalai oleh klian banjar yang bertugas sebagai menyangkut segala urusan dalam lapangan kehidupan sosial dan keagamaan,tetapi sering kali juga harus memecahkan soal-soal yang mencakup hukum adat tanah, dan hal-hal yang sifatnya administrasi pemerintahan.

2.3.3  Teknologi

Masyarakat Bali telah mengenal dan berkembang sistem pengairan yaitu sistem subak yang mengatur pengairan dan penanaman di sawah-sawah. Dan mereka juga sudah mengenal arsitektur yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan yang menyerupai bangunan Feng Shui. Arsitektur merupakan ungkapan perlambang komunikatif dan edukatif. Bali juga memiliki senjata tradisional yaitu salah satunya keris. Selain untuk membela diri, menurut kepercayaan bila keris pusaka direndam dalam air putih dapat menyembuhkan orang yang terkena gigitan binatang berbisa.
2.3.4  Organisasi Sosial
a).     Perkawinan

Penarikan garis keturunan dalam masyarakat Bali adalah mengarah pada patrilineal. System kasta sangat mempengaruhi proses berlangsungnya suatu perkawinan, karena seorang wanita yang kastanya lebih tinggi kawin dengan pria yang kastanya lebih rendah tidak dibenarkan karena terjadi suatu penyimpangan, yaitu akan membuat malu keluarga dan menjatuhkan gengsi seluruh kasta dari anak wanita.

Di beberapa daerah Bali ( tidak semua daerah ), berlaku pula adat penyerahan mas kawin ( petuku luh), tetapi sekarang ini terutama diantara keluarga orang-orang terpelajar, sudah menghilang.
b).     Kekerabatan

Adat menetap di Bali sesudah menikah mempengaruhi pergaulan kekerabatan dalam suatu masyarakat. Ada dua macam adat menetap yang sering berlaku di Bali yaitu adat virilokal adalah adat yang membenarkan pengantin baru menetap disekitar pusat kediaman kaum kerabat suami,dan adat neolokal adalah adat yang menentukan pengantin baru tinggal sendiri ditempat kediaman yang baru. Di Bali ada 3 kelompok klen utama (triwangsa) yaitu: Brahmana sebagai pemimpin upacara, Ksatria yaitu : kelompok-klompok khusus seperti arya Kepakisan dan Jaba yaitu sebagai pemimpin keagamaan, dan Waisya.
c).      Kemasyarakatan

Desa, suatu kesatuan hidup komunitas masyarakat bali mencakup pada dua pengertian yaitu : desa adat dan desa dinas (administratif). Keduanya merupakan suatu kesatuan wilayah dalam hubungannya dengan keagamaan atau pun adat istiadat, sedangkan desa dinas adalah kesatuan admistratif. Kegiatan desa adat terpusat pada bidang upacara adat dan keagamaan, sedangkan desa dinas terpusat pada bidang administrasi, pemerintahan dan pembangunan.
2.3.5  Mata Pencaharian

Pada umumnya masyarakat bali bermata pencaharian mayoritas bercocok tanam, pada dataran yang curah hujannya yang cukup baik, pertenakan terutama sapi dan babi sebagai usaha penting dalam masyarakat pedesaan di Bali, baik perikanan darat maupun laut yang merupakan mata pecaharian sambilan, kerajinan meliputi kerajinan pembuatan benda anyaman, patung, kain, ukir-ukiran, percetakaan, pabrik kopi, pabrik rokok, dll. Usaha dalam bidang ini untuk memberikan lapangan pekerjaan pada penduduk. Karena banyak wisatawan yang mengunjungi bali maka timbullah usaha perhotelan, travel, toko kerajinan tangan.

2.3.6  Religi

Agama yang di anut oleh sebagian orang Bali adalah agama Hindu sekitar 95%, dari jumlah penduduk Bali, sedangkan sisanya 5% adalah penganut agama Islam, Kristen, Katholik, Budha, dan Kong Hu Cu. Tujuan hidup ajaran Hindu adalah untuk mencapai keseimbangan dan kedamaian hidup lahir dan batin.orang Hindu percaya adanya 1 Tuhan dalam bentuk konsep Trimurti, yaitu wujud Brahmana (sang pencipta), wujud Wisnu (sang pelindung dan pemelihara), serta wujud Siwa (sang perusak). Tempat beribadah dibali disebut pura. Tempat-tempat pemujaan leluhur disebut sangga. Kitab suci agama Hindu adalah weda yang berasal dari India.

Orang yang meninggal dunia pada orang Hindu diadakan upacara Ngaben yang dianggap sanggat penting untuk membebaskan arwah orang yang telah meninggal dunia dari ikatan-ikatan duniawinya menuju surga. Ngaben itu sendiri adalah upacara pembakaran mayat. Hari raya umat agama hindu adalah Nyepi yang pelaksanaannya pada perayaan tahun baru saka pada tanggal 1 dari bulan 10 (kedasa), selain itu ada juga hari raya galungan, kuningan, saras wati, tumpek landep, tumpek uduh, dan siwa ratri.

Pedoman dalam ajaran agama Hindu yakni : (1).tattwa (filsafat agama), (2). Etika (susila), (3).Upacara (yadnya). Dibali ada 5 macam upacara (panca yadnya), yaitu (1). Manusia Yadnya yaitu upacara masa kehamilan sampai masa dewasa. (2). Pitra Yadnya yaitu upacara yang ditujukan kepada roh-roh leluhur. (3).Dewa Yadnya yaitu upacara yang diadakan di pura / kuil keluarga.(4).Rsi yadnya yaituupacara dalam rangka pelantikan seorang pendeta. (5). Bhuta yadnya yaitu upacara untuk roh-roh halus disekitar manusia yang mengganggu manusia.
2.3.7  Kesenian

Kebudayaan kesenian di bali di golongkan 3 golongan utama yaitu seni rupa misalnya seni lukis, seni patung, seni arsistektur, seni pertunjukan misalnya seni tari, seni sastra, seni drama, seni musik, dan seni audiovisual misalnya seni video dan film.

2.4     Tinjauan Tentang Nilai-nilai Budaya

a).      Tata krama : kebiasaan sopan santun yang di sepakati dalam lingkungan pergaulan antar manusia di dalam kelompoknya.

b).     Nguopin : gotong royong.

c).      Ngayah atau ngayang : kerja bakti untuk keperluan agama.

d).     Sopan santun : adat hubungan dalam sopan pergaulan terhadap orang-orang yang berbeda sex.

BAB III

PEMBAHASAN

 

 

3.1     Kebudayaan Bali

          Kebudayaan Bali pada hakikatnya dilandasi oleh nilai-nilai yang bersumber pada ajaran agama Hindu. Masyarakat Bali mengakui adanya perbedaaan ( rwa bhineda ), yang sering ditentukan oleh faktor ruang ( desa ), waktu ( kala ) dan kondisi riil di lapangan ( patra ). Konsep desa, kala, dan patra menyebabkan kebudayaan Bali bersifat fleksibel dan selektif dalam menerima dan mengadopsi pengaruh kebudayaan luar. Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa komunikasi dan interaksi antara kebudayaan Bali dan budaya luar seperti India (Hindu), Cina, dan Barat khususnya di bidang kesenian telah menimbulkan kreatifitas baru dalam seni rupa maupun seni pertunjukkan. Tema-tema dalam seni lukis, seni rupa dan seni pertunjukkan banyak dipengaruhi oleh budaya India. Demikian pula budaya Cina dan Barat/Eropa memberi nuansa batu pada produk seni di Bali. Proses akulturasi tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan Bali bersifat fleksibel dan adaptif khususnya dalam kesenian sehingga tetap mampu bertahan dan tidak kehilangan jati diri (Mantra 1996).

Kebudayaan Bali sesungguhnya menjunjung tinggi nilai-nilai keseimbangan dan harmonisasi mengenai hubungan manusia dengan Tuhan ( parhyangan ), hubungan sesama manusia ( pawongan ), dan hubungan manusia dengan lingkungan ( palemahan ), yang tercermin dalam ajaran Tri Hita Karana (tiga penyebab kesejahteraan). Apabila manusia mampu menjaga hubungan yang seimbang dan harmonis dengan ketiga aspek tersebut maka kesejahteraan akan terwujud.

Selain nilai-nilai keseimbangan dan harmonisasi, dalam kebudayaan Bali juga dikenal adanya konsep tri semaya yakni persepsi orang Bali terhadap waktu. Menurut orang Bali masa lalu ( athita ), masa kini ( anaghata ) dan masa yang akan datang ( warthamana ) merupakan suatu rangkaian waktu yang tidak dapt dipisahkan satu dengan lainnya. Kehidupan manusia pada saat ini ditentukan oleh hasil perbuatan di masa lalu, dan perbuatan saat ini juga menentukan kehidupan di masa yang akan datang. Dalam ajaran hukum karma phala disebutkan tentang sebab-akibat dari suatu perbuatan, perbuatan yang baik akan mendapatkan hasil yang baik. Demikian pula sebaliknya, perbuatan yang buruk hasilnya juga buruk atau tidak baik bagi yang bersangkutan.

Kebudayaan Bali juga memiliki identitas yang jelas yaitu budaya ekspresif yang termanifestasi secara konfiguratif yang emncakup nilai-nilai dasar yang dominan sepert: nilai religius, nilai estetika, nilai solidaritas, nilai harmoni, dan nilai keseimbangan (Geriya 2000: 129). Kelima nilai dasar tersebut ditengarai mampu bertahan dan berlanjut menghadapi berbagai tantangan.

 

3.2     Implementasi Nilai-nilai Luhur Budaya Bali

          Nama Bali begitu dikenal tidak hanya di dalam negeri kita, juga hingga ke manca negara. Kebudayaan Bali yang tinggi dan syarat dengan beraneka macam seni telah menarik minat wisatawan domestik maupun dari luar negeri.Kita sebagai pewaris kebudayaan Bali yang merupakan maha karya dari para leluhur kita sudahkah mengenal nilai-nilai luhur budaya Bali, sudahkan kita mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata?, sudahkan kita memanfaatkan nilai-nilai ini untuk meraih target hidup kita? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas marilah kita mulat sarira/introspeksi diri kita masing-masing, untuk memudahkan mengenal lebih dalam tentang nilai-nilai luhur budaya Bali.

Nilai-nilai budaya tidak terlepas dengan pengaruh Agama Hindu terhadap kebudayaan Bali. Hal ini sejalan dengan wacana Agama Hindu sebagai jiwa kebudayaan Bali.Hubungan pulau Bali dengan dunia luar bukanlah hal yang baru. Tentang hubungan Bali dengan dunia luar, khususnya dengan India, Prof. Dr. I Wayan Ardika,MA (1997:62) menyatakan bahwa hubungan itu sudah dikenal sejak zaman prasejarah, yakni dengan ditemukannya fragmen gerabah India yang mungkin berasal dari awal abad Masehi atau sekitar 2.000 tahun yang lalu.Tidak dapat dihindari bahwa pengaruh Agama Hindu dan budaya India di Bali demikian besarnya, hal ini dibuktikan dari berbagai peninggalan purbakala seperti diungkapkan oleh Swellengrebel (1960:17), yaitu: sumber utamanya adalah prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh para raja yang banyak jumlahnya baik yang tertulis pada batu maupun pada logam (tembaga). Prasasti-prasasti itu menceritakan para raja yang memerintah dan para menterinya, hubungannya dengan administrasi pemerintahan pusat dan orang-orang di desa-desa, peraturan di bidang keagamaan, aturan yang berhubungan dengan pengairan, perpajakan, dan sebagainya. Sumber lainnya adalah peninggalan purbakala, arca-arca dan artifak-artifak. Berdasarkan ungkapan Swellengrebel di atas maka kehidupan keagamaan dapat dikaji melalui sumber-sumber tersebut di atas. Di samping itu adalah sumber-sumber teks berupa berbagai manuskrip (lontar) yang cukup banyak jumlahnya. Nilai-nilai atau ajaran Agama Hindu yang tertulis itu terekspresi dalam pola pikir, perilaku individu dan sosial, dan juga dalam bentuk material seperti pura dengan beraneka bangunan suci di dalamnya, tata letak rumah, desa pakraman dan sebagainya.Di samping nilai budaya Bali itu bersumber pada ajaran Agama Hindu, juga disebabkan oleh kristalisasi nilai-nilai yang telah ada sebelumnya, atau juga karena pengaruh globalisasi, terjadi penyerapan nilai-nilai budaya global.

          Seperti telah disebutkan di atas, nilai-nilai atau ajaran agama Hindu terekspresi dan menjadi nilai-nilai budaya Bali.

1. Satya (kebenaran)

2. Udàratà (kedermawanan)

3. Úubhasaýkalpa (hasrat luhur)

4. Nirbhayata (keberanian)

5. Svavalambana (percaya diri)

6. Yajña (pengorbanan)

7. Viúvaprema (kasih sayang universal)

8. Nirlobha/Aparigraha (tidak rakus)

9. Ìrûyà (iri hati)

10. Sàmàjika Saògathana (organisasi sosial)

11. Mukti (Mokûa/penyelamatan spiritual)

12. Svasti Vacana (aspirasi-aspirasi luhur)

13. Úànti (damai)

14. Ahiýúa (tanpa kekerasan/tidak anarkis)

15. Bhadram (keutamaan/kemuliaan)

16. Vicakûana (kebijaksanaan)

17. Tapa (pengendalian diri)

18. Niûkàmakarma (tidak mementingkan diri sendiri)

19. Daivisampat (sifat ketuhanan/sifat yang luhur)

20. Samànaá/Ekatva/Advaita/Kalih Samaika/Bhineka Tunggal Ika (persatuan/kesatuan)

21. Lokasaýgraha (kesejahteraan bersama)

22. Samani (solidaritas/kebersamaan)

23. Vaúudhaivakutumbhakam (semua makhluk bersaudara)

24. Maduravacana (ucapan yang baik dan ramah)

25. Prayaúcitta (kesucian hati)

26. Sevaka (pelayanan sosial)

27. Akrodha (mengendalikan emosi)

28. Guruúuúrusa (taat kepada guru)

29. Úauca (suci/jernih pikirannya)

30. Àhàralaghava (mengendalikan diri dalam menikmati makanan)

31. Apramadha (tidak lalai)

32. Brahmacari (tekun belajar)

33. Avyavaharika (tidak suka bertengkar)

34. Astainya (tidak mengambil milik orang lain/mencuri)

35. Vairàgya (tidak mengikuti dorongan nafsu)

36. Tyàga/Lascarya (tulus ikhlas)

37. Santosa (puas/mensyukuri karunia Tuhan YME)

38. Tapa (pengendalian diri)

39. Svàdhyàya (belajar)

40. Ìúvaraprànidhana (mendekatkan diri kepada Tuhan YME)

41. Kayika Pariúuddha (perbuatan yang dipandang baik, yaitu: tidak membunuh, mencuri, dan tidak berzina)

42. Vacika Pariúuddha (perkataan yang dipandang baik, yaitu: tidak jahat atau munafik, tidak kasar, tidak memfitnah dan tidak berdusta)

43. Manacika Pariúuddha (pikiran yang dipandang baik, yaitu: tidak menginginkan milik orang lain, kasih dan sayang kepada semua makhluk, dan beriman kepada ajaran karmaphala)

44. Arjawa (jujur)

45. Anåsaýsya (tidak memenntingkan diri sendiri)

46. Arimbhava (bersimpati kepada penderitaan orang lain)

47. Indriyanigraha (mengendalikan indria)

48. Dama (bisa menasehati diri sendiri0

49. Dharaka, Sthitaprajña (tahan uji dalam menghadapi berbagai tantangan, stabil dalam suka dan duka)

50. Hrìh/Jengah (memiliki rasa malu)

51. Sadhusaýsarga (bergaul dengan orang-orang baik)

52. Satyavacana (menepati janji)

53. Satyamitra/Tindih (solidaritas kepada teman)

54. Satyasamaya (tepat waktu)

55. Kûama (pemaaf)

56. Prìti (simpati, sangat welas asih)

57. Prasàda (berpikiran jernih)

58. Madurya (manis pandangannya)

59. Màrdava (berhati lembut)

60. Dàna (memberikan derma/berderma)

61. Ijya (senantiasa memuja Tuhan YME dan leluhur)

62. Dhyàna (kontemplasi)

63. Upasthanigraha (pengendalian dorongan seks)

64. Brata (melakukan pantangan tertentu)

65. Mauna/Mona (mengendalikan wicara)

66. Snana (menyucikan diri dengan sembahyang rutin)

67. Dharma (taat menjalankan ajaran agama)

68. Vimatsaritva (tidak dengki/irihati)

69. Tìtìkûa (memiliki ketekunan dan kesabaran hati)

70. Anasùyà (tidak berbuat dosa)

71. Dhåti (hatinya tenang)

72. Andrayuda (menguasai ajaran agama, pengetahuan lainnya dan bijaksana)

73. Gunabhikûana (jujur dan mampu mengatasi berbagai kesukaran)

74. Sadhuniragraha (tidak menyakiti makhluk lain)

75. Vidagdaprasana (tidak mudah dihasut/dipropokasi)

76. Kåtarajahita (tidak segan meminta maaf bila melakukan kesalahan)

77. Tyagaprasana (tidak mengenal lelah bila melaksanakan tugas)

78. Suraraksana (tidak mengenal rasa takut/tidak khawatir)

79. Surapratyana (segan dan hormat kepada atasan/senioritas)

80. Úànta (satunya kata dengan perbuatan)

81. Sanmatà (selalu ingin berbuat baik)

82. Karuna (cinta kasih terhadap semua makhluk)

83. Upeksa (mawas diri)

84. Mudìtà (tutur katanya simpati)

85. Maitri (memiliki kasih sayang/bersahabat kepada semua makhluk)

86. Satyam nasti paro dharma (kebenaran adalah dharma tertinggi)

87. Ahiýúa paramo dharmah (tidak menyakiti hati sesama makhluk hidup merupakan dharma tertinggi)

88. Tat tvam asi (memandang setiap makhluk seperti diri sendiri)

89. Trihita Karana (tiga hal yang menyebabkan sejahtera, hubungan harmoni dengan Tuhan YME, dengan sesama makhluk, dan dengan alam lingkungan/sekitar)

90. Rvabhineda (dua hal yang berbeda, baik-buruk, salah-benar dan lain-lain)

91. Sagari-giri-adomukha (keindahan yang mengandung daya magnetis bila di tepi pantai terlihat gunung dan pegunungan yang indah, dan bila berada di pegunungan, kelihatan pantai dan lautan yang indah)

92. Satyam-Úivam-Sundaram (kebenaran-keharmonisan-keindahan)

93. Parasparosarpanaya (salunglung-sabhayanta) (wirang) (beriuksaguluk) (bersatu padu) (solidaritas, seia sekata, senasib sepenanggungan)

94. Dakûinà (kemurahan hati),

95. Asevakadharma (mendahulukan kebajikan)

96. Úànta-jagadhita (damai dan sejahtera)

97. Trimandala (uttama, madhyama, kaniûþama, hulu, madia, teben)(di atas, di tengah-tengah, di bawah)

98. Bhoga, Upabhoga, Paribhoga (pangan, sandang, papan)

99. Asih-Puóya-Bhakti (cinta kasih, jasa dan penghormatan)

100. Sadhugunavan (berbudipekerti luhur dan memiliki kemampuan)

101. Agawe sukhaning praja (sukhaning ràt kininkinira)(senantiasa membangun kesejahteraan masyarakat)

102. Deúa-Kàla-Patra (tempat-waktu-keadaan)

103. Deúa amawacara nàgara amawa tata (desa punya aturan, negara punya hukum yang mengatur segalanya)

104. Nityasa angulih sutreptining nàgantu (senantiasa mewujudkan ketentraman dan ketertiban masyarakat)

105. Pràjarakûaka (mewujudkan ketentraman masyarakat)

106. Ksayanikang papa nahan prayojana (lenyapnya penderitaan masyarakat menjadi tujuan hidupnya)

107. Sakatilinganingambek, nyata katresnan yata katemu (sesuatu yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh, pasti akan berhasil dicapai)

108. Haywa ngkàla kûepa (tidak membuang kesempatan/waktu)

Dari 108 butir nilai budaya Bali di atas, tampaknya terkesan hal tersebut adalah ajaran merupakan ajaran agama Hindu murni. Namun bila ditinggalkan atau tidak menggunakan bahasa Sanskerta, bahasa Jawa Kuno atau bahasa Bali dan diperhatikan terjemahannya dalam bahasa Indonesianya, maka nilai-nilai budaya di atas tampak benar-benar universal, karena tidak dibatasi oleh nilai-nilai lokal. Butir-butir nilai budaya lainnya adalah Dàna (sedekah), Akûa/Nìta (menghindari judian), Svastipanthàm (jalan kemuliaan), Saýjñàóam (keharmonisan), Jàgàra (kewaspadaan), Dakûa (kesucian hati), Kìrti (kemuliaan), Yaúa (jasa baik), Úriyaá (keramahan), Maitra (persaudaraan), Svadharma (tugas dan kewajiban), Varma/Vìram/Nirbhayata (keberanian), Varna (profesi), Àúram (tahapan hidup), Prajña (kecerdasan), Yoga (kesatuan dengan Yang Maha Esa), Bhakti (kebaktian), dan lain-lain yang tentunya masih banyak belum diungkapkan (Dvivedi, 1990:VII).

3.3       Kompetensi Budaya Bali Populer Dalam Era Globalisasi

3.3.1    Tari Kecak sebagai Magnet Wisatawan Mancanegara

Tari Kecak merupakan salah satu tarian tradisional Bali. Tari Kecak adalah pertunjukan seni tari yang sudah ada kira-kira sejak tahun 1930. Tarian kecak dimainkan oleh puluhan orang. para penari rata-rata lelaki. penari kecak akan duduk bersila dan membentuk sebuah lingkaran. kedua lengan diangkat sambil meneriakan Cak. sementara penari yang lain akan menari didalam lingkaran. dengan memerankan tokoh Rama, Sinta, Laksemana, Hanoman, Sugriwa, Subali, dan Rahwana.

Tarian kecak menceritakan kisah Ramayana, tarian Kecak tidak menggunakan musik (Gambelan). melainkan menggunakan perpaduan suara dari para penari. Tarian Kecak dipentaskan pada malam hari, untuk penerangan tidak menggunakan lampu melainkan obor yang dipasang di sekeliling penari dan didalam lingkaran. lokasi pementasan Tari Kecak yang terkenal adalah Uluwatu. Tarian kecak diciptakan sekitar tahun 1930 didaerah Bona kabupaten Gianyar. Tarian Kecak diciptakan berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian dari kisah Ramayana. karena tarian Sanghyang merupakan tarian sakral yang hanya bisa dipentaskan di pura pada saat upacara keagamaan. akhirnya diciptakanlah tarian kecak supaya bisa dipentaskan di tempat umum. Wayan limbak mempopulerkan Tari Kecak pada saat berkeliling dunia beserta rombongan tari Balinya.

Tarian kecak terus mengalami perubahan dan perkembangan mulai tahun 1970 mulai dari segi cerita dan pementasannya. pada tanggal 29 September 2006 pemerintah daerah kabupaten tabanan memecahkan rekor pementasan tari kecak kolosal, dengan jumlah penari lima ribu Orang yang dipentaskan di Tanah Lot.

3.3.2    Budaya Bali akan Selalu Populer

Perkembangan wisata di Bali antara tahun 1970 sampai dengan tahun 2000 cukup menunjukan angka yang signifikan. Kunjungan wisatawan tiap tahunnya selalu meningkat, pada masa itu Bali merupakan satu-satunya aset pariwisata bagi Indonesia. Bali merupakan sumber devisa terbesar bagi bangsa Indonesia khususnya dibidang pariwisata. Gubernur Bali pada waktu itu yang dijabat oleh Ida Bagus Mantra mulai mengembangkan tempat-tempat wisata yang ada dipulau Bali, dan mencetuskan gagasan untuk mengadakan Pesta Kesenian Bali yang dilaksanakan setiap tahun guna melestarikan dan mengembangkan Seni dan Budaya Bali untuk meningkatkan perkembangan pariwisata di Bali. Dan Pesta Kesenian Bali tersebut untuk pertama kalinya dibuka oleh Gubernur Bali Ida Bagus Mantra, dan Pesta Kesenian Bali yang berikutnya dibuka oleh Presiden atau Wakil Presiden Indonesia.  Termasuk pemberdayaan sumberdaya manusia, dengan mengembangkan sarana dan prasarana pendidikan khususnya dibidang pariwisata.

Meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan yang datang ke Bali, ikut mempengaruhi para pengembang dunia pariwisata untuk membangun fasilitas-fasilitas pendukung seperti, Hotel, Rumah Makan, dan tempat-tempat hiburan yang diperuntukan bagi wisatawan yang berkunjung ke bali. Dan dengan mengembangkan daerah-daerah yang ada di bali, yang berpotensial untuk dijadikan obyek wisata di pulau bali. Dan dengan melestarikan serta mengembangkan budaya Bali agar seiring dengan perkembangan jaman diharapkan akan mampu menjadi aset bagi perkembangan pariwisata di bali. Beberapa seni tari yang merupakan bagian dari budaya Bali mulai dikembangkan oleh para seniman Bali, termasuk juga seni lukis yang mulai dikembangkan oleh beberapa seniman lokal dan seniman asing.

Sekitar tahun 1997 pada saat itu Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi, dan terjadi reformasi hingga terjadi pergantian kekuasaan dari Presiden Soeharto kewakil Presiden B.J. Habibe. Dan Bali juga sempat terkena dampaknya dari krisis tersebut, tetapi tidak terlalu lama hanya beberapa saat saja. Perkembangan wisata sudah mulai pulih kembali, disertai dengan peningkatan wisatawan dari manca negara yang datang berkunjung ke Bali. Sementara wisatawan dalam negeri sedikit menurun.

Pada tahun 2002 tepatnya pada tanggal 12 Oktober 2002 terjadi ledakan bom di jalan Legian Kuta, yang menewaskan sekitar 202 orang, dan sekitar 350 orang lainnya luka-luka. Dan korban tragedi tersebut mayoritas wisatawan asing, yang berasal dari Australia, Inggris, Amerika, dan warga Indonesia. Ledakan bom bali 1, itu didalangi oleh kelompok Amrozi dan kawan-kawan. Kejadian tersebut cukup membuat hancur pariwisata di Bali, pada malam itu para wisatawan langsung kembali ke negara asalnya. Dan disusul dengan Warning Travel dari Negara-Negara yang warganya banyak berkunjung ke Indonesia khususnya Bali. Semua elemen masyarakat di Bali mengutuk keras para pelaku peledakan Bom tersebut. Dan bagi kami orang Bali yang beragama Hindu percaya bahwa hukum kharma akan berlaku bagi mereka para pelaku teror tersebut. Dan ternyata Tuhan maha adil, hanya beberapa bulan para pelaku Bom Bali tersebut ditangkap. Dan tiga tahun kemudian pada tahun 2005 menyusul ledakan Bom Bali 2, dan korban yang meninggal cukup sedikit, para pelaku Bom Bali 2, semuanya sudah ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku. Sementara pelaku Bom Bali 1, Amrozi beserta kawan-kawannya mendapat ganjaran yang setimpal dengan dijatuhi hukuman mati dan sudah dieksekusi oleh aparat penegak hukum. Di Legian Kuta dibangun sebuah monumen yang disebut Ground Zero untuk mengenang peristiwa 12 oktober tersebut, tepatnya satu tahun setelah peledakan Pentagon dan WTC di Amerika Serikat, dan sekarang setiap tahun masyarakat sekitar Legian Kuta dan para wisatawan mengenang para korban dengan melakukan Doa bersama dan perenungan perdamaian di sekitar monumen Ground Zero tersebut.

Perlahan-lahan pariwisata di Bali mulai bangkit dan hingga sekarang tahun 2010 kedatangan para wisatawan mulai meningkat dari tahun ke tahun. Itu semua menunjukkan bahwa Bali masih pantas untuk dikunjungi dan masih merupakan salah satu tempat wisata populer di Dunia.

3.3.3    Perkembangan Pariwisata di Pulau Bali Didasari Oleh Budaya Bali

Pada dasarnya perkembangan pariwisata di Bali mengacu pada budaya dan tradisi Bali dan didukung oleh keindahan alam pulau Bali. tetapi kalau dilihat dari potensi alam, malahan Negara-negara lain potensi alamnya jauh lebih indah dari pulau bali. Tetapi kenapa banyak wisatawan yang lebih memilih pulau Bali sebagai salah satu tempat tujuan wisata mereka.

Itu semua tiada lain karena budaya yang kita miliki, budaya bali yang sudah diwariskan oleh leluhur kita. Sudah sepatutnya kita jaga dan kita lestarikan. budaya Bali merupakan bagian dari Agama Hindu, dan budaya Bali adalah nafas dari agama hindu. Budaya Bali dan agama hindu akan selalu selaras dengan perkembangan jaman. Budaya Bali sudah ada sejak jaman dulu sebelum agama hindu masuk dan berkembang di pulau Bali. Agama hindu masuk ke Indonesia melalui perdagangan yang disebarkan oleh para pedagang yang berasal dari India. Dan mencapai puncak kejayaan pada masa kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh raja Hayam Wuruk dan mahapatih Gajah Mada.

Agama hindu mulai berkembang di pulau Bali pada masa runtuhnya kerajaan Majapahit. Para prajurit dan rakyat Majapahit yang selamat, menyelamatkan diri kewilayah timur pulau jawa ke daerah pegunungan seperti Gunung Bromo dan Gunung Semeru dan sebagian lagi menyeberang ke pulau Bali. Dan semenjak itu agama hindu terus berkembang di pulau Bali hingga sekarang. Perkembangan agama hindu tidak merubah tatanan budaya yang ada di pulau Bali. Walaupun agama hindu berasal dari India tetapi budaya dan tradisi masyarakat bali sebelumnya masih tetap dipertahankan.

Ajaran agama hindu mengajarkan pada manusia tentang ketuhanan dan Dharma. Dimana seluruh alam semesta ini beserta isinya diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sanghyang Widhi Wasa). Budaya Bali merupakan ekspresi  dari ajaran agama hindu, semua aspek budaya Bali senantiasa diabadikan untuk kemuliaan agama hindu, begitu pula sebaliknya agama hindu senantiasa menjiwai semua aspek budaya tersebut. Dengan ajaran yang universal sejak awal tetap dipertahankan dan diaplikasikan dalam kehidupan nyata yang dikenal dengan Tri Hita Karana, yaitu hubungan yang harmoni antara Tuhan dengan manusia, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam dan lingkungan sekitarnya.

3.3.4    Objek Wisata Pulau Bali

Pantai kuta merupakan salah satu obyek wisata yang ada di pulau bali, pantai kuta terkenal akan keindahan pantainya dengan ombak yang besar, dan merupakan salah satu tempat berselancar di bali. banyak peselancar dunia yang meluangkan waktunya untuk berkunjung ke bali, dan mencoba ombak di pantai kuta serta pantai lainnya yang ada di pulau bali. bagi para wisatawan yang tidak bisa bermain selancar, di sana ada beberapa instruktur yang siap memberikan pelatihan dan cara bermain selancar. pada sore hari wisatawan bisa menikmati indahnya suasana pantai disaat matahari terbenam. di kawasan pantai kuta banyak terdapat hotel-hotel dan restaurant, mulai dari masakan tradisional bali maupun masakan internasional. dan di sepanjang jalan pantai kuta juga terdapat toko-toko yang menjual beraneka ragam cenderamata sebagai oleh-oleh pada saat kembali ke negaranya.

Pantai sanur merupakan obyek wisata pantai yang ada di kota denpasar, tempat ini merupakan tempat yang ramai dikunjungi wisatawan. ombak di pantai sanur cukup tenang tempat ini sangat cocok untuk mengajak seluruh keluarga termasuk anak-anak karena di sini juga banyak permainan air untuk anak-anak. permainan air di sini cukup beragam seperti: perahu pisang, jet ski, kano, parasailing dan lain-lain. dipagi hari suasana pantai sanur sangat indah pada saat terbitnya matahari. sepanjang pantai sanur banyak terdapat hotel yang berdiri megah dan juga rumah makan. di sepanjang jalan pantai sanur juga terdapat toko-toko yang menjual aneka ragam cenderamata.

Pantai Nusa Dua, merupakan sebuah kawasan pantai yang terletak di daerah kabupaten Badung, Tempat ini merupakan obyek wisata pantai yang terkenal di pulau Bali. di kawasan ini banyak terdapat hotel-hotel yang berbintang, dan restaurant. restaurant di sekitar pantai Nusa Dua banyak yang menghidangkan masakan laut.

Tanah Lot merupakan salah satu obyek wisata yang ada di daerah kabupaten Tabanan. keindahan Pantai yang ada di Tanah Lot, didukung oleh megahnya sebuah pura yang berdiri kokoh di tepian pantai Tanah Lot, deburan ombak yang besar selalu menghantam karang yang ada di pura Tanah Lot. di sana juga banyak terdapat Hotel-Hotel yang megah dan beberapa restaurant.

Danau Beratan merupakan tempat wisata yang terletak di daerah kabupaten Tabanan. pesona alam disana begitu indah, udaranya yang sejuk dan hijaunya pepohonan yang berada di sekitar danau Beratan, seakan menenteramkan fikiran dan hati kita. di danau Beratan terdapat sebuah pura yang bernama Pura Ulun Danu. di sana wisatawan akan dihibur dengan permainan-permainan air, seperti permainan ski air. Dan di sana juga wisatawan bisa menyewa perahu  bermotor. untuk membantu para wisatawan yang ingin mengelilingi danau Beratan.

Nusa Lembongan merupakan obyek wisata yang terletak di daerah Nusa Penida. Nusa Lembongan terkenal akan keindahan alam lautnya. keindahan terumbu karang dan kehidupan hewan lautnya yang beragam, seakan menambah pesona Nusa Lembongan. bagi wisatawan yang ingin menikmati indahnya bawah laut, di sana ada penyewaan alat-alat selam, dan di sana ada pelatihan menyelam bagi wisatawan yang belum bisa menyelam, dengan instruktur yang cukup handal.

Danau Batur merupakan tempat wisata yang ada di daerah Kintamani Kabupaten Bangli, Kintamani terkenal akan keindahan alamnya yang masih asri, dan udara yang sejuk. di kintamani terdapat sebuah pura, yang bernama Pura Batur. dengan keindahan danau batur yang berada tepat di kaki gunung Batur, semakin menambah pesona alam Kintamani. para wisatawan juga bisa menikmati pemandian air panas yang ada di sekitar danau batur. di sana juga terdapat beberapa hotel dan restaurant.

Pura Besakih adalah sebuah pura terbesar yang ada di pulau bali. apabila ada suatu upacara agama yang dilaksanakan di pura besakih, seluruh masyarakat bali yang beragama hindu melaksanakan persembahyangan di pura tersebut. pura besakih yang begitu megah terbuat dari batu yang dihiasi ukiran bali, pura Besakih terletak di kabupaten Karang Asem. selain pura besakih di Karang Asem juga terdapat obyek wisata Candi Dasa.

Ubud merupakan obyek wisata yang terletak di daerah kabupaten Gianyar. di ubud terdapat hutan lindung penangkaran satwa pengerat yaitu monyet. dan lokasi tersebut diberi nama monky forest. pesona alam di sana sangat menarik dipandang mata, dengan  bentangan sawah yang bertingkat-tingkat. di ubud juga terdapat beberapa hotel, vila dan restaurant. selain ubud di kabupaten gianyar juga terdapat obyek wisata Tirta Empul, dan Goa Gajah.

 

3.3.5    Kisah Dibalik Tarian Barong

Tari Barong merupakan tarian yang berasal dari pulau Bali. Pada awalnya tari barong merupakan sebuah tarian yang sakral. cerita dalam Tari Barong adlah kisah Calonarang. Yang mengisahkan tentang kebaikan melawan kejahatan, barong melambangkan kebaikan, dan leak melambangkan kejahatan. Pada pelaksanaan upacara agama tari barong ini dipentaskan di pura, dengan tema kisah Calonarang dan dimainkan oleh beberapa penari. Dua orang penari menarikan barong, dan satu orang penari topeng leak, dengan menggunakan barong dan topeng leak.  Sementara penari lainnya memerankan tokoh dalam kisah Calonarang. Kisah Calonarang merupakan sebuah kisah yang terjadi pada jaman kerajaan Jenggala yang dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raja Erlangga.

Kisah ini berawal dari seorang janda yang bernama Naten Girah (Calonarang) yang menguasai ilmu hitam atau leak, dan mempunyai beberapa murid, dan juga mempunyai seorang putri cantik yang bernama Diah Ratna Manggali. Diseluruh Desa Daha tersebarlah kabar bahwa Putri dari Naten Girah (Calonarang) yang bernama Diah Ratna Manggali juga mampu menguasai ilmu hitam seperti ibunya. Sehingga seluruh pemuda desa, tidak ada yang berani untuk mendekati Diah Ratna Manggali putri dari Calonarang. Sehingga timbul kekhawatiran dari Calonarang kalau nanti putrinya tidak akan mendapatkan pasangan laki-laki dan bisa menjadi perawan tua. Kemudian timbullah kemarahan dari Calonarang kepada seluruh penduduk desa Daha.

Lalu Calonarang memuja Dewi Durga dan memohon anugrah untuk menyebarkan wabah penyakit , melalui ilmu hitam yang dimilikinya diseluruh Desa Daha dan sekitarnya. Permohonan Calonarang dikabulkan oleh Dewi Durga dengan Syarat penyebaran wabah penyakit tidak sampai ke kota kerajaan Jenggala. Akhirnya Calonarang mengumpulkan semua muridnya dan mengutus keempat muridnya tersebut yaitu, Nyi Lenda, Nyi Lendi, Nyi Larrung, dan Nyi Sedaksa, untuk menyebarkan wabah penyakit melalui ilmu hitam diseluruh Desa Daha dan sekitarnya. Sehingga penduduk Desa banyak yang terserang penyakit aneh dan langsung meninggal.

Seluruh pejabat Desa melaporkan kejadian tersebut ke hadapan Raja Erlangga. Setelah menerima laporan tersebut Raja Erlangga menjadi marah dan mengutus prajurit kerajaan untuk menghentikan perbuatan Calonarang. Karena kesaktian yang dimiliki oleh Calonarang sangat tinggi, mengakibatkan seluruh pasukan yang dikirim Raja Erlangga tewas kesaktian oleh Calonarang. Karena sudah tidak ada lagi yang mampu untuk menghentikan Calonarang, akhirnya Raja Erlangga memanggil penasehat kerajaan untuk mencari solusi dalam mengatasi masalah tersebut.

Akhirnya ditunjuklah seorang Brahmana yang bernama Empu Beradah, untuk menghentikan tindakan yang dilakukan oleh Calonarang, karena menurut penasehat kerajaan hanya Empu Beradah yang mampu menghentikan Calonarang. Kemudian Empu Beradah menyuruh putranya yang bernama Empu Bahula, untuk menikahi Diah Ratna Manggali agar bisa mengambil buku ilmu hitam yang dimiliki oleh Calonarang. Setelah buku itu berhasil diambil, dan Empu Beradah mengetahui kelemahan dari Calonarang. Kemudian Empu Beradah menemui Calonarang dan menjelaskan semua kejahatan yang dilakukan oleh Calonarang, akhirnya Empu Beradah menantang Calonarang untuk mengadu kesaktian mereka masing-masing. Dalam pertarungan tersebut Calonarang berhasil dikalahkan oleh Empu Beradah. Dalam tarian barong, Empu Beradah diceritakan berubah wujud menjadi sosok barong, dan Calonarang berubah wujud menjadi sosok leak. Jadi tari barong merupakan sebuah tarian yang melambangkan antara kebaikan dan kejahatan.

Seiring perkembangan jaman serta perkembangan dunia pariwisata di pulau bali, kemudian tari barong dikembangkan oleh para seniman bali agar tari barong bisa dipentaskan di tempat umum dan bisa disaksikan oleh para wisatawan yang ingin menyaksikan pertunjukan tari barong. Tari barong merupakan salah satu tarian yang paling disukai oleh wisatawan yang berkunjung ke pulau bali. Tempat pertunjukan tari barong ada di daerah Singapadu Kabupaten Gianyar.

BAB IV

IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

 

 

4.1 Implikasi

-          Kebudayaan Bali sangat beragam, namun banyak yang belum dimaksimalkan. Sehingga diperlukan peran serta antara masyarakat dan pemerintah.

-          Akulturasi budaya Bali dengan kebudayaan asing menyebabkan kebudayaan Bali Aga mulai ditinggalkan. Sehingga, diperlukan pemahaman mengenai nilai-nilai luhur budaya Bali agar budaya Bali tetap lestari.

-          Era globalisasi sedikit banyak menyentuh perkembangan dunia, begitu juga di Bali. Jika masyarakat Bali tidak memiliki local genius serta tidak mampu mem-filterisasi kebudayaan luar, ditakutkan jiwa asli dari kebudayaan Bali, khususnya bahasa, akan sirna. Sehingga, diperlukan konsilidasi antarmasyarakat Bali sendiri untuk bersama-sama menjaga keutuhan jiwa budaya Bali.

4.2 Rekomendasi

Rekomendasi dari tulisan ini, yaitu dipahaminya bahwa hanya jiwa asli budaya Balilah yang mampu membuat kebudayaan Bali populer. Nilai-nilai luhur budaya Bali, seperti bahasa, religi, pengetahuan, dan lain-lain, harus tetap dilestariakan, meskipun sedikit banyak akan dipengaruhi arus globalisasi.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Swarsi, Ni Luh. 1986. Kedudukan Dan Peranan Wanita Pedesaan Daerah

           Bali. Jakarta: Departeman Pendidikan Dan Kebudayaan

Dhana, I Nyoman. 1994. Pembinaan Budaya Dalam Keluarga Daerah Bali. Bali:

Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan

Internet:

http://de-kill.blogspot.com/2009/04/sekilas-budaya-bali.html

http://imadeharyoga.com/2009/10/budaya-bali-menjadi-budaya-yang-unik/

http://www.balipost.co.id/index.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Halaman_Utama

http://oviefendi.wordpress.com/

http://singaraja.wordpress.com/2008/03/22/nilai-nilai-budaya-bali/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN GAMBAR

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: