Makalah Seminar Hari Raya Saraswati

7 Feb

 

SEMINAR SEHARI SARASWATI SMAN 1 DPS

( PENGUATAN IMPLEMENTASI PEMAHAMAN MAKNA HARI RAYA SARASWATI SEBAGAI MEDIA INISIASI PENINGKATAN KARAKTER DAN BUDAYA BANGSA )

 

 

MAKALAH

 

 

 

 

 

 

 

 

PENYAJI:

 

MPS SMANSA MASA BAKTI 2011/2012

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

 

Om Swastyastu,

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sang HyangWidhi Wasa, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah dengan judul ”Penguatan Implementasi Pemahaman Makna Hari Raya Saraswati Sebagai Media Inisiasi Peningkatan Karakter dan Budaya Bangsa ”. Makalah ini disusun dalam rangka penyajian materi dalam Seminar Sehari Saraswati SMAN 1 Denpasar.

Dalam kesempatan ini penyusun menyampaikan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada pihak yang telah mendukung penyelesaian makalah ini. Terutama kepada:

  1. Panitia Guru,
  2. Anggota dan Komisi MPS masa bakti 2011/2012,
  3. Serta berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Seperti kata pepatah, tiada gading yang tak retak, yang artinya tiada makhluk yang sempurna di dunia ini. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari segenap pembaca sehingga makalah ini dapat digunakan dengan baik. Harapan penyusun semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan menambah pengetahuan terutama bagi penyusun serta bermanfaat bagi dunia pendidikan.

Denpasar, November 2011

 

Penyusun

DAFTAR ISI

 

Halaman Judul………………………………………………………………….   ..1

Kata Pengatar……………………………………………………………………..2

Daftar Isi………………………………………………………………………….3

Bab 1. Pendahuluan

1.1  Latar Belakang……………………………………………………….4

1.2  Tujuan………………………………………………………………..5

Bab 2. Kajian Pustaka

2.1 Tinjauan Tentang Hari Raya Saraswati……………………………..5

2.2 Tinjauan Tentang Karakter dan Budaya Bangsa……………………7

Bab 3. Pembahasan

3.1  Pengertian dan Perayaan Hari Raya Saraswati Secara Umum………………………………………………………………….9

3.2  Efektivitas Ajaran Agama Hindu dalam Pembentukan Budaya dan Karakter Bangsa…………………………………………………….11

3.3  Implementasi Makna Hari Raya Saraswati Sebagai Media Inisiasi Peningkatan Budaya dan Karakter Bangsa…………………………12

Bab 4. Implikasi dan Rekomendasi

4.1 Implikasi…………………………………………………………….16

4.2 Rekomendasi………………………………………………………..16

Daftar Pustaka…………………………………………………………………..17

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1     Latar Belakang

 

Pendidikan saat ini lebih mengedepankan aspek keilmuan dan kecerdasan intelektual anak. Adapun aspek moral dan agama sebagai basis pembentukan karakter dan budaya bangsa semakin terpinggirkan. Rapuhnya karakter dan budaya dalam kehidupan bangsa dapat membawa kemunduran dalam peradaban bangsa. Sebaliknya, kehidupan masyarakat yang memiliki karakter dan budaya yang kuat akan semakin memperkuat eksistensi suatu bangsa dan negara.

Berbagai kasus yang tidak sejalan dengan etika, moralitas, sopan santun atau perilaku yang menunjukkan rendahnya karakter telah sedemikian marak dalam masyarakat. Lebih memprihatinkan lagi, perilaku itu tidak sedikit ditunjukkan oleh  orang-orang yang terdidik namun kurang beragama. Ini membuktikan bahwa pendidikan saja, kurang berhasil dalam membentuk watak (karakter) yang terpuji.

Beranjak dari permasalahan itulah, perlu adanya media inisiasi untuk meningkatan karakter yang sejatinya sudah terbentuk namun belum dioptimalkan. Hari Raya Saraswati sebagai momentum turunnya ilmu pengetahuan yang menjadi penerang hidup manusia di dunia sudah sepatutnya dimaknai untuk membebaskan diri dari avidya (kebodohan) dengan vidya dan menuju pencerahan. Berbagai media telah digunakan untuk membentuk karakter bangsa, namun sekali lagi, media yang mampu membentuk karakter dengan tetap mempertahankan etika serta moral yang baik dari setiap generasi adalah agama. Dalam makalah ini, penyaji berusaha untuk mengungkap apa sebenarnya makna perayaan Hari Raya Saraswati dalam implementasinya terhadap karakter dan budaya bangsa. Serta metodologi atau jalan untuk mencapai tujuan, yang dalam hal ini adalah pemahaman terhadap makna Hari Raya Saraswati.

 

 

1.2 Tujuan

 

Tulisan ini bertujuan untuk membangun karakter siswa agar dapat memahami apa makna dan inti dari perayaan suci ini. tradisi atau upacara ini sudah berasal sejak lama . Kita hanya meneruskan saja tradisi ini, dan kurang memahami apa makna dan inti yang sebenarnya. Hari Raya Saraswati ini sebagai salah satu bagian dari Hari Raya besar di Bali. Dimana pengetahuan menjadi makana atau tema yang utama dalam Hari Raya ini. kolaborasi antar unsur-unsur pengetahuan dengan agama sangat terasa pada hari raya ini .Hari Raya ini dapat membuktikan betapa pentingnya pendidikan untuk kehidupan Berbangsa dan Bernegara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

 

2.1     Tinjauan Tentang Hari Raya Saraswati

Hari raya untuk memuja Saraswati dilakukan setiap 210 hari yaitu setiap hari Sabtu Umanis Watugunung. Besoknya, yaitu hari Minggu Paing wuku Sinta adalah hari Banyu Pinaruh yaitu hari yang merupakan kelanjutan dari perayaan Saraswati.

Perayaan Saraswati berarti mengambil dua wuku yaitu wuku Watugunung (wuku yang terakhir) dan wuku Sinta (wuku yang pertama). Hal ini mengandung makna untuk mengingatkan kepada manusia untuk menopang hidupnya dengan ilmu pengetahuan yang didapatkan dari Sang Hyang Saraswati. Karena itulah ilmu penge-tahuan pada akhirnya adalah untuk memuja Tuhan dalam mani-festasinya sebagai Dewi Saraswati.

Pada hari Sabtu wuku Watugunung itu, semua pustaka terutama Weda dan sastra-sastra agama dikumpulkan sebagai lambang stana pemujaan Dewi Saraswati. Di tempat pustaka yang telah ditata rapi dihaturkan upacara Saraswati. Upacara Saraswati yang paling inti adalah banten (sesajen) Saraswati, daksina, beras wangi dan dilengkapi dengan air kumkuman (air yang diisi kembang dan wangi-wangian). Banten yang lebih besar lagi dapat pula ditambah dengan banten sesayut Saraswati, dan banten tumpeng dan sodaan putih-kuning. Upacara ini dilangsungkan pagi hari dan tidak boleh lewat tengah hari.

Menurut keterangan lontar Sundarigama tentang Brata Saraswati, pemujaan Dewi Saraswati harus dilakukan pada pagi hari atau tengah hari. Dari pagi sampai tengah hari tidak diperkenankan membaca dan menulis terutama yang menyangkut ajaran Weda dan sastranya. Bagi yang melaksanakan Brata Saraswati dengan penuh, tidak membaca dan menulis itu dilakukan selama 24 jam penuh. Sedangkan bagi yang melaksanakan dengan biasa, setelah tengah hari dapat membaca dan menulis. Bahkan di malam hari dianjurkan melakukan malam sastra dan sambang samadhi.

Besoknya pada hari Radite (Minggu) Paing wuku Sinta dilangsungkan upacara Banyu Pinaruh. Kata Banyu Pinaruh artinya air ilmu pengetahuan. Upacara yang dilakukan yakni menghaturkan laban nasi pradnyam air kumkuman dan loloh (jamu) sad rasa (mengandung enam rasa). Pada puncak upacara, semua sarana upacara itu diminum dan dimakan. Upacara lalu ditutup dengan matirtha. Upacara ini penuh makna yakni sebagai lambang meminum air suci ilmu pengetahuan.

 

2.2     Tinjauan Tentang Karakter dan Budaya Bangsa

Budaya diartikan sebagai keseluruhan sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan (belief) manusia yang dihasilkan masyarakat. Sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan itu adalah hasil dari interaksi manusia dengan sesamanya dan lingkungan alamnya. Sistem berpikir, nilai, moral, norma dan keyakinan itu digunakan dalam kehidupan manusia dan menghasilkan sistem sosial, sistem ekonomi, sistem kepercayaan, sistem pengetahuan, teknologi, seni, dan sebagainya. Manusia sebagai makhluk sosial menjadi penghasil sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan; akan tetapi juga dalam interaksi dengan sesama manusia dan alam kehidupan, manusia diatur oleh sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan yang telah dihasilkannya. Ketika kehidupan manusia terus berkembang, maka yang berkembang sesungguhnya adalah sistem sosial, sistem ekonomi, sistem kepercayaan, ilmu, teknologi, serta seni.

Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak.

Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter masyarakat dan karakter bangsa. Oleh karena itu, pengembangan karakter bangsa hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter individu seseorang. Akan tetapi, karena manusia hidup 4 dalam ligkungan sosial dan budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang berangkutan. Artinya, pengembangan budaya dan karakter bangsa hanya dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan sosial,budaya masyarakat, dan budaya bangsa. Lingkungan sosial dan budaya bangsa adalah Pancasila; jadi pendidikan budaya dan karakter bangsa haruslah berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Dengan kata lain, mendidik budaya dan karakter bangsa adalah mengembangkan nilai-nilai Pancasila pada diri peserta didik melalui pendidikan hati, otak, dan fisik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

 

3.1     Pengertian dan Perayaan Hari Raya Saraswati Secara Umum

Hari Raya Saraswati adalah hari raya untuk memuja Sang Hyang Widhi dalam kekuatannya menciptakan ilmu pengetahuan dan ilmu kesucian. Hari raya ini diperingati setiap enam bulan sekali yaitu pada hari Sabtu Umanis Wuku Watugunung. Tentang penggambaran sosok Dewi Saraswati sebagai seorang wanita cantik tidak terlepas dari theologi Weda yang salah satu diantaranya menggambarkan Tuhan beserta manifestasi-Nya sebagai “Personal Good” (Tuhan Berpribadi). Seperti Dewa Siwa dengan bermata tiga, Brahma dengan kepala empat, juga termasuk Dewi Saraswati dengan wajah cantiknya yang bertangan empat.

Di Bali perayaan Saraswati sering disebut piodalan buku, lontar dan sastra agama yarig dianggap sebagai sumber ilmu pengetahuan. Ada juga menyebutkan sebagai hari untuk melakukan puja saraswati. Kemudian keesokan harinya pada Redite (Minggu) paing Sinta dilanjutkan dengan Banyupinaruh. Inilah saat secara bersama-sama masyarakat Hindu di Bali menyucikan diri dan rohaninya ke laut, danau, sungai dan sumber-sumber air.

Hari Saraswati mendapat perhatian istimewa bagi umat Hindu di Bali, apalagi di kalangan anak-anak muda. Umat merayakanya dengan mempersembahkan banten atau sesajen kepada Hyang Widi dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Aji saraswati. Setelah itu dilanjutkan dengan melakukan persembahyangan di pura, pemerajan dan tempat-tempat suci lainnya.

Kalau di rumah biasanya persembahyangan dilakukan di depan buku-buku, lontar atau sumber pustaka yang ditumpuk sedemikian rupa menyerupai gunung atau bangunan candi. Sumber-sumber pustaka yang ditulis dengan aksara ini kemudian dibuatkan banten, diupacarai. Yang menarik dan beda dengan hari-hari suci Hindu lainnya, banten yang dipersembahkan saat Saraswati adalah banten khusus yang disamakan banten Saraswati sama dengan nama hari sucinya.

Dalam ajaran Tri Murti menurut agama Hindu, Sang Hyang Aji Saraswati adalah saktinya/kekuatan Sang Hyang Brahma. Beliau diwujudkan sebagai wanita cantik bertangan empat lengkap dengan berbagai atributnya antara lain: dua buah tangannya di depan masing-masing memegang wina dan kuncup teratai, dua buah tangannya di belakang memegang genitri dan cakepan. Disamping itu terdapat pula burung merak dan angsa. Dari kesemua atribut tersebut mempunyai makna yaitu :

1. Genitri adalah lambang bahwa ilmu pengetahuan itu tidak pernah berakhir sepanjang hidup dan tak akan pernah habis dipelajari.

2. Lontar/cakepan adalah lambang sumber ilmu pengetahuan

3. Wina/alat musik adalah mencerminkan bahwa ilmu pengetahuan dapat mempengaruhi rasa estetika/keindahan dari manusia.

4. Teratai sebagai stana / linggih Hyang Widhi.

5. Burung merak melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu agung dan berwibawa.

6. Angsa adalah simbul dari kebijaksanaan untuk membedakan antara yang baik dengan yang buruk. Dan juga angsa merupakan lambang kekuasaan di ketiga dunia (tri loka) karena ia bergerak di tiga unsur alam yaitu di air, darat maupun di udara.

Sehari setelah hari raya saraswati yaitu pada hari Minggu Paing wuku Sinta disebut Banyu Pinaruh. Pada hari ini barulah upacara Saraswati berakhir dengan tata cara sebagai berikut:

a. Asuci laksana yaitu pada pagi hari umat melaksanakan pensucian diri yaitu mandi dan keramas dengan air kumkuman (air yang berisi bunga-bunga yang wangi)

b. setelah selesai asuci laksana, kemudian menghaturkan nasi pradnyan, jamu sadrasa dan air kumkuman sebagai pasucian. Dilanjutkan dengan nunas air kumkuman lalu sembahyang dan matirta. Terakhir nunas labaan Saraswati yaitu nasi pradnyan dan loloh. Setelah itu barulah upacara di lebar/selesai.

 

3.2     Efektivitas Ajaran Agama Hindu dalam Pembentukan Budaya dan Karakter Bangsa

          Pembangunan karakter bangsa tidak terlepas dari pembangunan manusia Indonesia yang seutuhnya. Sumber daya manusia yang dibangun bertolak dari pembangunan sikap iman, ahlak moral, tanggung jawab, demokrasi dan toleransi adalah hal mutlak yang harus dilakukan sejak dini. Peran ajaran Agama Hindu adalah sebagai pandangan hidup pribadi pemeluknya dalam hubungannya dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Peran ajaran Agama Hindu lebih ditonjolkan kepada suatu sikap dalam kerangka menghargai manusia sebagai mahluk ciptaan-Nya, sebagai dirinya sendiri, dalam hubungannya dengan lingkungan baik lingkungan sosial dan alam. Hal tersebut selaras dengan pandangan Tri Hita Karana yang sangat dipegang teguh oleh pemeluk Hindu sebagai sebuah pandangan universal yang sudah ada sejak dahulu kala bahkan umurnya lebih tua dari sejarah Hak Asasi Manusia yang saat ini berlaku universal.
Pembelajaran Agama Hindu bukan berarti menimbulkan rasa fanatik fundamentalisme, akan tetapi membentuk karakter yang lebih peduli pada nasib bangsanya. Hal tersebut disebabkan oleh karakter Hindu sendiri yang terbuka dan fleksibel.

Sebagaimana kepribadian, ada dua faktor penting yang berpengaruh terhadap karakter, yakni faktor endogenus (faktor hereditas) dan faktor eksogenus (pengaruh lingkungan, khususnya pendidikan). Namun, para ahli memandang bahwa faktor pendidikan dalam pengertian umum, baik pendidikan dalam keluarga, masyarakat maupun sekolah, memberi sumbangan/ kontribusi yang cukup signifikan terhadap pembentukan karakter.

Hal ini berarti niliai-nilai luhur yang diperkenalkan dan dicontohkan melalui kehidupan keluarga dan lingkungan masyarakat serta melalui pendidikan di sekolah dapat mewarnai karakter seseorang, yang pada gilirannya dapat juga mewarnai karakter masyarakat atau bahkan karakter bangsa. Sedangkan nilai-nilai luhur bangsa ini dapat bersumber dari jaran-ajaran agama serta kearifan lokal dan nasional.

Nilai-nilai luhur seperti gotong-royong, tolong-menolong, bertanggung jawab terhadap apa yang diperbuat, malu bila melakukan perbuatan asusila dan kesalahan, tidak mau mengambil sesuatu yang bukan haknya, menghargai orang tua dan guru serta orang yang lebih tua, sopan dalam bertutur kata, santun dalam bertindak, dan semacamnya perlu digali kembali.

Nilai-nilai luhur seperti itu selain perlu direformulasi lagi untuk menjadi bahan dalam proses pendidikan, juga harus dicontohkan oleh para orang tua, orang dewasa, guru, tokoh masyarakat, terlebih lagi diintegrasikan dalam berbagai bahan ajar pendidikan di sekolah-madrasah.

 

3.3     Implementasi Makna Hari Raya Saraswati Sebagai Media Inisiasi Peningkatan Budaya dan Karakter

Perihal sosok cantik untuk menggambarkan Dewi Saraswati, sesunguhnya mengandung arti simbolis. Bahwa apa yang digambarkan cantik itu pasti menarik, karena Dewi Saraswati adalah Dewi ilmu pengetahuan, maka tentu saja akan membuat umat manusia tertarik untuk mempelajari ilmu pengetahuan itu sendiri. Ketertarikan disini jelas bukan dari segi fisik biologis, melainkan harus dilihat etis-religius. Bahwa mempelajari ilmu pengetahuan sebenarnya adalah salah satu bentuk bhakti kita kepada Dewi Saraswati. Tentu saja ilmu pengetahuan yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. Ilmu pengetahuan merupakan harta yang tak ternilai harganya, sebab selama manusia itu hidup, ilmu pengetahuan yang dimilikinya tidak akan habis atau berkurang malah akan bertambah terus sesuai dengan kemampuannya menyerap ilmu pengetahuan. Lain halnya dengan harta benda duniawi yang sewaktu-waktu bisa habis, kalau tidak cermat memanfaatkannya. Ilmu pengetahuan merupakan senjata yang utama dalam meningkatkan kehidupan dunia ini. Orang bisa mencapai kedudukan yang terhormat, kewibawaan, kemuliaan kalau memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi.

Beralih ke makna banten saraswati kaitannya dengan pembentukan karakter. Banten saraswati memang agak rumit pembuatannya. Masing-masing elemen mengandung makna mendalam, baik dalam kehidupan sosial beragama maupun dalam hubungan personal manusia dengan Hyang Widi. Mungkin saking ruimitnya lantas umat lebih cenderung membeli banten Saraswati pada pedagang-pedagang yang khusus menjual banten ini ketimbang membuatnya sendiri. Padahal jika dimaknai lebih mendalam, pembuatan banten yang rumit akan mengajarkan kita untuk bersabar, giat berlatih, serta tidak mudah menyerah untuk mencapai tujuan tertentu. Disamping itu, terdapat nilai estetika atau keindahan yang tersirat dalam pembuatan banten itu sendiri.

Tradisi perayaan hari suci Saraswati biasanya dilakukan pada waktu pagi hari guna memohon kepada Hyang Widi agar buku yang merupakan sumber keweruhan atau ilmu pengetahuan tetap mendapat anugerahnya. Jadi jelas pada hari Saraswati bukan menyembah lontar, buku dan pustaka lainnya. Bila umat bersembahyang dihadapan “candi pustaka” bentuk tumpukan sumber pustaka tersebut, yang disembah Hyang Widi dalam manifestasi Sang Hyang Aji Saraswati. Kita diajarkan untuk selalu mengucapkan syukur atas karunia-Nya yang melimpahkan keweruhan lewal sumber pustaka tersebut.

Pada hari Saraswati diadakan persembahyangan bersama. Malah para cendikiawan zaman dulu merayakan Saraswati disertai tapa, brata, yoga semadhi disamping tetap menumpuk sumber-sumber pustaka sehingga menjadi ” candi pustaka” yang tampak seperti orang menjalankan tapa, brata, yoga dan semadhi. Upacara ini tak jarang dilengkapi dengan mona brata yaitu tidak berbicara selama perayaan tersebut. Disamping itu juga diadakan malam sastra dan seni pada malam harinya. Hal ini semuanya untuk menghormati Hyang Widi dan mohon anugrahNya. Untuk sekarang umat cukup dengan melakukan persembahyangan di tempat-tempat yang sudah ditentukan. Misalnya di Denpasar dipusatkan di Pura Jagatnata. Selain itu bisa di Padmasana masing-masing sekolah.

Dewi Saraswati dalam wujud simbolik dilukiskan sebagai wanita cantik yang bertangan empat. Masing-masing memegang genitri, keropak, wina, teratai dan di dekatnya terdapat burung merak dan angsa.

Semuanya ini memberikan simbol yang masing-masing mempunyai arti. Wanita cantik, misalnya menyimbulkan bahwa ilmu pengetahuan itu mulia, lemah lembut dan menarik sebagaimana halnya sifat-sifat wanita. Geneiri, lambang ilmu pengetahuan itu tidak ada awal dan akhirnya dan juga tidak habis selama hidup. Keropak, lambang sumber ilmu pengetahuan. Wina lambang ilmu pengetahuan itu memang, indah dan sangat mempengaruhi perasaan yang sangat halus. Teratai lambang kesucian Hyana Widi, Merak lambang dari ilmu pengetahuan akan memberikan kewibawaan – kepada orang yang menguasai dan angsa melambangkan ilmu pengetahuan yang sanoat bijaksana.

Seringkali perayaan Hari Raya Saraswati belum disertai pendalaman ajaran agama atau makna yang terkandung di dalam perayaan Saraswati. Karena itu perlu perayaan Saraswati disertai pendalaman ajaran yang terkait di dalamnya.  Lalu apa yang mesti dilakukan umat pada saat merayakan hari Saraswati, cukupkan sembahyang saja? Pertanyaan seperti ini memang sering terdengar dan ini  wajar saja karena masyarakat belum mengerti makna saraswati.

Saraswati sebenarnya merupakan hari untuk merenung, hari untuk meniti jalan ke dalam diri kita agar hari berikutnya lebih baik dari hari ini. Sebagai manusia kita harus menjadikan hidup ini benar-benar berguna. Sebagai manusia hendak nya juga memiliki sifat-sifat lembut sebagaiinana sifat yang dimiliki wanita yang menjadi simbul Saraswati itu.

Tapi dalam konteks kehidupan sekarang, perayaan Saraswati tak cukup hanya bersembahyang dan mengaturkan banten, tetapi sebagai umat kita dituntut lebih daripada itu, yakni bisa menyumbngkan ilmu yang kita miliki kepada masyarakat yang memerlukan.

Ini sesuai ajaran agama kita untuk beryajna (baca beryadnya), yaitu membantu orang secara tulus iklas tanpa mengharapkan imbalan. Menyadari akan hal itu, perayaan Saraswati bisa dijadikan introspeksi bagi umat khusunya para cendikiawan guru atau para ilmuwan untuk mempertanyakan. “Apakah seorang guru sudah memberikan ilmunya kepada anak didiknya sesuai dengan dharmaning seorang guru?

Di sisi lain, mitos bahwa pada hari Saraswati tidak boleh membaca sudah saatnya diluruskan. Larangan membaca buku sebenar-nya hanya pada saat buku itu diupacarai, setelah upacara usai membaca boleh saja. Begitulah ilmu pengetahuan memang. Sangat penting dan amat berharga bagi umat manusia. Ilmu pengetahuan merupakan kekayaan yang utama, kekal dan abadi.

Yang haris diingat:

1. Saraswati adalah “tonggak peringatan, agar kita (umat Hindu) menyadari bahwa ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

2. SDM terdiri dari dua: fisik dan non fisik. Fisik adalah kesehatan dan kebugaran tubuh. Non-fisik adalah “kesehatan/ kesempurnaan”: Spiritual, Emosional, dan Intelektual.

3. SDM adalah Sumber Daya utama, melebihi pentingnya sumber daya yang lain seperti SDA (Sumber Daya Alam), SDMod (Sumber Daya Modal), dll. Tanpa SDM, SDA dan SDMod tidak ada artinya dan tidak dapat dimaksimalkan hasil-gunanya.

4. Kualitas SDM penting untuk mencapai Mokshartam jagaditaya ca iti dharmah (secara individu) dan pada akhirnya mencapai Satyam-Siwam-Sundaram (secara bersama/ kemasyarakatan).

5. Proses belajar dan pembelajaran berlanjut sepanjang waktu selama hayat dikandung badan. Maka jangan pernah berhenti belajar-mengajar.

6. Derajat manusia ditentukan oleh mutu SDM. Bukan karena kelahiran, kekayaan, kebangsawanan, dan tetek-bengek lainnya.

7. Veda adalah sumber segala Ilmu Pengetahuan. Sangat ironis bila umat Hindu yang “memiliki” Veda, kok SDM-nya lemah! Nah, bangkit, bangkit, bangkit, bangkit! Jangan tidur.

8. Mau badan sehat,bugar, ada YOGA; mau pintar, ada RGVEDA, SAMAVEDA, YAYURVEDA, ATHARVAVEDA; mau suci dan dekat dengan-Nya, ada meditasi. Nah mau apa lagi?

9. Jangan “Koh Ngomong”, jangan lagi nyanyi: “De ngaden awak bisa, ndepang anake ngadanin…” Yang lebih penting, kurangi tidur. Baca, belajar, berbuat, dan… sembahyang.

 

 

 

BAB IV

IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

 

 

4.1 Implikasi

 

-          Saraswati adalah “tonggak peringatan, agar kita (umat Hindu) menyadari bahwa ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

-          Hari Raya Saraswati memiliki nilai-nilai yang penting sebagai media inisiasi peningkatan budaya dah karakter bangsa. Sehingga perlu pemahaman dari segenap pihak dan realisasi terhadap pemahaman tersebut.

-          Hari Raya Saraswati tidak hanya sekedar hari turunnya ilmu pengetahuan, tetapi harus dimaknai sebagai hari untuk membagikan ilmu pengetahuan dan introspeksi diri.

 

4.2 Rekomendasi

 

Rekomendasi dari tulisan ini, yaitu dipahaminya bahwa denagan memahami mana perayaan Hari Raya Saraswari, kita mampu mengintrospeksi diri dan lebih menghargai ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang berharga untuk kehidupan orang banyak. Tradisi-tradisi yang biasa dilakukan saat Hari Raya Saraswati harus tetap dilestarikan dan maknanya tetap diimplementasikan dalam kehidupan nyata.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://www.iloveblue.com/kampus

http://blog3hari.blogspot.com/2011/03/makna-dan-inti-perayaan-hari-raya.html

http://perindag.denpasarkota.go.id/

http://sman1mtp.sch.id/index.php?option=com_content&view=article&id=90:kara kter-dan-budaya

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: