Pidato: Bahasa dan Sastra Indonesia

6 Feb

*Juara 3 Lomba Pidato Bulan Bahasa SMAN 1 Dps*


Om Swastyastu,

 

Yang terhormat dewan juri,

Yang saya hormati pula panitia pelaksana Lomba Bulan Bahasa tahun 2011 SMA Negeri 1 Denpasar, para peserta lomba berpidato, serta hadirin yang berbahagia.

 

Pertama-tama marilah kita memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga kita dapat berkumpul pada kesempatan kali ini dalam keadaan sehat.

Dalam pidato ini, saya akan menyampaikan pemaparan mengenai masalah yang sangat menarik, yaitu “Sudahkah Kita Mencintai Bahasa sebagai Jati Diri dan Budaya Bangsa?”

Hadirin yang berbahagia,

Bangsa Indonesia memiliki jati diri yang membedakannya dari bangsa lain di dunia. Jati diri tersebut sekaligus menunjukkan keberadaan bangsa Indonesia di antara bangsa lain. Salah satu simbol jati diri bangsa Indonesia adalah bahasa, dalam hal ini tentu saja bahasa Indonesia. Hal itu sejalan dengan semboyan yang selama ini kita kenal, yaitu “bahasa menunjukkan bangsa”.

Dalam era global seperti sekarang ini, jati diri suatu bangsa menjadi suatu hal yang penting untuk dipertahankan agar bangsa kita tetap dapat menunjukkan keberadaannya di antara bangsa lain di dunia. Namun, bagaimana kondisi kebahasaan kita sebagai jati diri bangsa saat ini?

Saudara-saudara,

Perlu kiranya kita berkaca pada keterpurukan angka kelulusan mata pelajaran bahasa Indonesia pada ujian nasional 2011. Hal ini ditengarai karena tingkat kesulitan yang terkandung pada soal termasuk tinggi. Siapa yang patut disalahkan? Guru atau siswa? Jawabannya adalah tidak sepenuhnya, baik oleh guru maupun siswa. Itu karena soal yang disajikan belum konprehensif. Kita liat faktanya, soal-soal mata pelajaran bahasa Indonesia pada ujian nasional lebih banyak menguji kemampuan membaca saja. Padahal dalam bahasa Indonesia harus diukur kemampuan empat aspek, yaitu membaca, menulis, berbicara, dan menyimak

Lebih lanjut, sebenarnya ada dua masalah dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Pertama,  siswa menilai pembelajaran bahasa Indonesia sangat membosankan karena menganggap dirinya sudah mampu berbahasa. Padahal sebenarnya mereka hanya mengetahui bahasa Indonesia “pasaran” sehingga saat dihadapkan pada soal-soal bahasa Indonesia berbahasa formal, seperti pada soal ujian nasional, maka merek tidak dapat berbuat apa-apa. Kedua, yaitu penyampaian materi yang kurang menarik sehingga secara tidak langsung siswa menjadi lemah dalam menangkap materi pelajaran tersebut. Perlu kita sadari, bahwa dari pihak guru, mata pelajaran ini menjadi tanggung jawab yang sangat besar. Guru dituntut untuk bisa membuat siswa berpikir bahasa Indonesia ialah pelajaran yang menarik dan mempunyai masa depan yang cerah.

Di Indonesia kita melihat kurang ada kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia, tidak hanya bagi kalangan awam, tetapi juga di kalangan cendekiawan. Misalnya dalam pidato para pejabat, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sering kali digunakan bahasa Inggris. Tanpa disadari, kita juga gemar mengambil alih kata bahasa Inggris dan menjadikannya kata dalam bahasa Indonesia. Padahal sudah terdapat kata padanan untuk kata-kata yang diserap tersebut. Misalnya, sebagian masyarakat lebih suka menggunakan kata di-follow up-i, di-pending, meeting, dan on the way. Padahal, kita memiliki kata ditindaklanjuti untuk di-follow up-i, kata ditunda untuk di-pending, pertemuan atau rapat untuk meeting, dan sedang di jalan untuk on the way, lalu mengapa kita harus menggunakan kata berbahasa asing? Bagaimana kita bisa melestarikan bahasa Indonesia kalau bukan dari diri sendiri? Sikap yang tidak menjunjung bahasa persatuan itu, harus dikikis karena kita harus mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia sebagai simbol jati diri bangsa agar kita tidak menjadi asing di negeri sendiri.

Tidak seharusnya kita membiarkan bahasa Indonesia larut dalam arus komunikasi global yang menggunakan media bahasa asing seperti itu. Jika hal seperti itu kita biarkan, tidak tertutup kemungkinan jati diri keindonesiaan kita sebagai suatu bangsa pun akan pudar, bahkan tidak tertutup kemungkinan terancam larut dalam arus budaya global. Jika hal itu terjadi, jangankan berperan di tengah kehidupan global, menunjukkan jati diri keindonesiaan kita sebagai suatu bangsa pun belum tentu bisa.

Hadirin yang saya hormati,

Sebagai simbol jati diri bangsa, bahasa Indonesia harus terus dikembangkan agar tetap memenuhi fungsinya sebagai sarana komunikasi modern dalam berbagai bidang kehidupan. Di samping itu, mutu penggunaannya pun harus terus ditingkatkan agar bahasa Indonesia dapat menjadi sarana komunikasi yang efektif dan efisien untuk berbagai keperluan. Upaya tersebut kini telah memperoleh landasan hukum yang kuat, yakni dengan disahkannya Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, dimana Undang-undang tersebut merupakan amanat dari Bab XV Pasal 36 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan sekaligus merupakan realisasi dari tekad para pemuda Indonesia sebagaimana diikrarkan dalam Sumpah Pemuda, tanggal 28 Oktober 1928, yakni menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia.

Dalam menjalani kehidupan pada era global saat ini, baik jati diri lokal maupun jati diri nasional tetap merupakan dua hal yang sangat penting untuk dipertahankan agar kita tetap dapat menunjukkan keberadaan kita sebagai suatu bangsa. Jati diri itu sama pentingnya dengan harga diri. Tanpa jati diri, kita tidak memiliki harga diri, atau sebaliknya. Atas dasar tersebut, agar menjadi suatu bangsa yang bermartabat, jati diri bangsa itu harus diperkuat, baik yang berupa bahasa dan sastra, seni budaya, adat istiadat, tata nilai, maupun perilaku budaya dan kearifan lokalnya. Dengan demikian marilah kita semua sebagai generasi penerus bangsa dan calon penerus pemimpin bangsa yang tangguh kita lestarikan bahasa kita sebagai alat berhubungan/komunikasi dengan masyarakat, daerah/wilayah yang berbeda agar kita tetap bersatu.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan dalam pidato saya kali ini. Terima kasih atas perhatian yang telah diberikan. Mohon maaf apabila terdapat perkataan atau tingkah laku yang kurang berkenan. Akhir kata saya tutup dengan paramashanti.

Om Santih, Santih, Santih, Om

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: