Artikel: Menyikapi Seks dan Hedonisme Dikalangan Remaja Metropolis Kota Denpasar

7 Feb

*Juara 1 Lomba Artikel Kemah Budaya 3 Kota Denpasar*

 

Seks dan hedonisme menjadi sebuah mata rantai yang tak terputus akibat perkembangan arus global.   Globalisasi budaya saat ini menjadi wajah dunia yang tak bisa dielakkan, khususnya di kota Denpasar yang saat ini berkembang menjadi kota metropolis. Globalisasi budaya tanpa melalui proses akulturasi dapat menyebabkan terjadinya tindakan dominatif yang mengarah pada terjadinya hegemoni atau paksaan budaya pada akhirnya akan menimbulkan gaya hidup yang tidak sesuai. Gaya hidup adalah cara hidup individu yang diidentifikasikan oleh bagaimana orang menghabiskan waktu mereka (aktivitas), apa yang mereka anggap penting dalam hidupnya (ketertarikan) dan apa yang mereka pikirkan tentang dunia sekitarnya.

Salah satu jenis gaya hidup yang berkembang di setiap kota metropolis, yakni hedonisme.  Hedonisme merupakan suatu pola hidup yang aktivitasnya untuk mencari kesenangan hidup, seperti lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah, senang terhadap kemewahan, serta selalu ingin menjadi pusat perhatian. Faktor internal yang mendorongnya ialah, (1) Konsep diri yang telah terbentuk sejak dini, (2) Motif individu untuk menjadi sama atau lebih dari orang lain, serta (3) Persepsi individu yang salah dalam mengintepretasikan informasi atau budaya yang masuk. Sementara itu, factor eksternalnya antara lain, (1) Kelompok referensi yang memengaruhi individu secara langsung, (2) Keluarga yang memegang peran terbesar dalam pembentukan sikap dan perilaku individu, (3) Kedudukan sosial sebagai status seseorang di lingkungan pergaulannya. Dari semua faktor tersebut, kembali lagi pada diri masing-masing apakah mampu memfilter segala dampak dari arus global tersebut. Karena jika tidak, hedonisme akan berkembang menjadi dampak lebih serius, yakni seks bebas.

Sifat remaja adalah selalu ingin tahu. Ingin mencoba segala sesuatu . yang belum diketahuinya. Normal, sebagai bagian dari pertumbuhan fisik dan jiwanya. Namun, dalam perkembangannya sering muncul kelompok-kelompok yang terbentuk dalam ketidakpahaman tentang nilai-nilai dan norma-norma keagamaan. Pencarian indentitas dan jati diri yang sering tanpa arah, membentuk pribadi-pribadi yang goyah serta jiwa yang labil. Kondisi ini kemudian mendorong mereka menuju penyimpangan perilaku yang bertentangan dengan aturan­-aturan moral di masyarakat. Antara lain terjadi penyimpangan perilaku seksual, seperti kumpul kebo, seks bebas, homoseks, pelecehan seksual dsb.

Penyimpangan perilaku seksual dalam perkembangannya dewasa ini semakin mengkhawatirkan bagi setiap orang, terutama masyarakat kota Denpasar yang paling mudah menerima akulturasi budaya.  Dalam agama Hindu, tidak pernah melarang adanya pembicaraan seksual, namun akhir-akhir ini, dengan semakin mudahnya akses via media elektronik mengenai informasi serupa, telah melanggar tatanan norma yang telah tumbuh dan telah dibatasi oleh norma sosial dan agama.

Kepedulian masyarakat dan kader-kader pelestari budaya dalam menyikapi dis-equilibrium antara kepribadian dan perkembangan jaman, akan sangat membantu memfilterisasi dampak-dampak tersebut. Sehingga pada akhirnya, remaja mengerti akan manfaat globalisasi sebenarnya, seperti perkembangan teknologi. Dan perkembangn teknologi tersebut tidak lagi dijadikan faktor utama perkembangan seks dan hedonisme melainkan menjadi sarana penyumbang informasi agar remaja lebih pintar dalam mengambil manfaat perkembangan jaman untuk mengarungi hidup di kota metropolis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: