Karya Tulis Ilmiah

7 Feb
Substitusi Peran Ibu Biologis dengan Ibu Asuh  dalam Penerapan Pola Asuh Authoritative Sebagai Upaya Membentuk Karakter
Kebangsaan Anak-Anak Panti Asuhan
Oleh
NI MADE CHYNTIA TRISNA EVA DEWI (NIS 18678)
NI PUTU PUTRI PUSPITANINGRUM  (NIS 18700)
Ditujukan Kepada :
Panitia Penyelenggara Lomba Karya Tulis Ilmiah Peringatan Hari Ibu
DPD KNPI Provinsi Bali
SMA NEGERI 1 DENPASAR
2011
PEMERINTAH KOTA DENPASAR

DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA

SMA NEGERI 1 DENPASAR

     Alamat   :  Jalan Kamboja Denpasar  Telp. 222044
   Ê Fax (0361) 244621 Web : http://www.smansabali.sch.id
SURAT KETERANGAN
No. 421.3/1651/SMA.1-Dps.
Yang   bertanda   tangan  di   bawah  ini   Kepala  Sekolah  Menengah       Atas     ( SMA )  Negeri 1 Denpasar, menerangkan bahwa :
No
Nama Siswa
NIS
Kelas
1
Ni Made Chyntia Trisna Eva Dewi
18678
XI IPS
2
Ni Putu Putri Puspitaningrum
18700
XI IPA 7
       memang benar yang bersangkutan  adalah siswa SMA Negeri 1 Denpasar,yang duduk di kelas tersebut diatas.
Demikian surat keterangan ini dibuat dengan sebenarnya  untuk dapat dipergunakan  sebagaimana mestinya.
Denpasar, 21 Desember 2011
Kepala SMA Negeri 1 Denpasar,
Drs. I Made Tumbuh, M.Pd.
NIP. 19511231 197602 1 023
PEMERINTAH KOTA DENPASAR

DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA

SMA NEGERI 1 DENPASAR

Alamat   :  Jalan Kamboja Denpasar  Telp. 222044
Ê Fax ( 0361 )244621 Web : smansabali.sch.id

 

LEMBAR PENGESAHAN
No. 421.3/1651/SMA.1-Dps.
Yang   bertanda   tangan  di   bawah  ini Kepala  Sekolah  Menengah       Atas     ( SMA )  Negeri 1 Denpasar dan Pembina, menerangkan bahwa karya tulis yang berjudul Substitusi Peran Ibu Biologis dengan Ibu Asuh  dalam Penerapan Pola Asuh Authoritative Sebagai Upaya Membentuk Karakter Kebangsaan Anak-Anak Panti Asuhan benar karya siswa SMA Negeri 1 Denpasar yang bernama:
No
Nama Siswa
NIS
Kelas
1
Ni Made Chyntia Trisna Eva Dewi
18678
XI IPS
2
Ni Putu Putri Puspitaningrum
18700
XI IPA 7
       Demikian lembar pengesahan ini dibuat dengan sebenarnya  untuk dapat dipergunakan  sebagaimana mestinya.
Kepala SMA Negeri 1 Denpasar,
Drs. I Made Tumbuh, M.Pd.
NIP. 19511231 197602 1 023
Denpasar, 21 Desember 2011
Pembina,
Dra. Putu Purwani Laksmi
NIP. 19570909 197803 2 008

 

KATA PENGANTAR
Om Swastyastu,
Puji syukur penulis panjatkan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-Nya karya tulis ilmiah ini dapat diselesaikan. Karya ilmiah ini berjudul Substitusi Peran Ibu Biologis dengan Ibu Asuh  dalam Penerapan Pola Asuh Authoritative Sebagai Upaya Membentuk Karakter Kebangsaan Anak-Anak Panti Asuhan. Karya tulis ini adalah hasil diskusi, penelitian kelompok, dan wawancara yang telah dilakukan sebelumnya. Tujuan karya tulis ini adalah untuk mengembangkan ide dalam usaha meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan abdi bumi atau petani.
Melalui kesempatan ini penulis ucapkan terima kasih kepada:
1.      Bpk Drs. I Made Tumbuh, M.Pd. selaku kepala SMAN 1 Denpasar
2.      Ibu Dra. Putu Purwani Laksmi selaku pembina
3.      dan berbagai pihak lain yang telah membantu penyusunan karya tulis ini.
Mohon maaf apabila terdapat kekurangan karena keterbatasan penulis dalam karya ilmiah ini. Namun, kami berharap karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yang membacanya. Atas perhatian yang diberikan, penulis ucapkan terima kasih.
Om Santih, Santih, Santih Om
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman Judul                                                                                                 i
Surat Keterangan                                                                                             ii
Lembar Pengesahan                                                                                         iii
Kata Pengantar                                                                                                 iv
Daftar Isi                                                                                                         v
BAB I :            Pendahuluan
            1.1 Latar Belakang                                                                               3
            1.2 Rumusan Masalah                                                                         4
            1.3 Tujuan Penelitian                                                                           4
            1.4 Manfaat Penelitian                                                                         4
            1.5 Hipotesis                                                                                        5
            1.6 Ruang Lingkup                                                                              5
BAB II : Tinjauan Pustaka
            2.1 Tinjauan Mengenai Metode Sosial-Industri  dalam Sektor
Pertanian                                                                                                          6
            2.2 Tinjauan Mengenai Ketahanan Pangan di Indonesia                                  7
            2.3 Tinjauan Mengenai Dusun Subak untuk Peningkatan
Kesejahteraan Abdi Bumi                                                              8
BAB III : Metode Penelitian
            3.1 Metode Penelitian                                                                          9
            3.2 Teknik Pengumpulan Data                                                             9
            3.3 Teknik Pengolahan Data                                                                9
            3.4 Teknik Analisis Data                                                                     9
BAB IV : Pembahasan
            4.1 Pengembangan Metode Sosial-Industri dalam Pertanian                10
            4.2 Dusun Subak sebagai Aplikasi Metode Sosial-Industri dalam
Menjawab Berbagai Permasalahan Pertanian dan Petani di Bali     11
            4.3 Dampak Penerapan Metode Sosial-industri Melalui Realisasi
Dusun Subak Terhadap Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan
Abdi Bumi                                                                                     15
BAB V : Penutup
            5.1 Simpulan                                                                                       17
            5.2 Saran                                                                                             17
Daftar Pustaka                                                                                                 18
Lampiran         `                                                                                               19
Substitusi Peran Ibu Biologis dengan Ibu Asuh  dalam Penerapan
Pola Asuh Authoritative Sebagai Upaya Pembentukan
Karakter Kebangsaan Anak-Anak Panti Asuhan
 
Chyntia Trisna1) Putri Puspitaningrum2)
SMA NEGERI 1 DENPASAR
INTISARI
Setiap anak tumbuh dan berkembang melalui proses belajar tentang dirinya sendiri dan dunia sekitarnya. Ibu lebih berperan besar dalam menjalankan pola asuh, sekaligus proses belajar ini untuk membentuk dan mengembangkan karakter seorang anak. Namun, tidak semua anak-anak memiliki ibu. Pada umumnya anak-anak ini diasuh di panti asuhan dengan pola asuh tradisional dan mereka mendapat ancaman besar berkaitan dengan karakter kebangsaan yang harusnya dibentuk orang tua, terutama ibu. Berdasarkan beberapa penelitian mengenai keadaan anak panti asuhan, menggambarkan adanya hambatan perkembangan psikologis maupun sosial anak panti asuhan (Hartini, 2001). Maka dibutuhkan peran ibu pengganti yang dapat menciptakan suasana dan kondisi yang memungkinkan terpenuhinya segala kebutuhan fisik, psikologis maupun sosialnya sehingga terbentuk pola asuh yang lebih tepat, yaitu pola asuh authorative yang bersinergi dengan ibu asuh. Tujuan penulisan ini yaitu untuk menyosialisasikan, mengembangkan ide, dan merealiasikan pembentukan karakter kebangsaan anak-anak panti asuhan. Penulisan ini dimulai pada 14 Desember sampai 21 Desember dengan teknis studi pustaka dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diperlukan perhatian khusus pada anak-anak tanpa ibu yang tetap memerlukan perhatian seorang ibu dalam membentuk karakter kebangsaan. Dalam karya tulis ini dikhususkan pada anak-anak di panti asuhan. Sehingga, dalam karya tulis ini diuraikan pentingnya peran ibu pengganti yang bersinergi dengan perbaikan pola asuh tradisional menjadi authoritative untuk menjamin pembentukan karakter kebangsaan.
Kata Kunci:Ibu Asuh, Anak-Anak, Pola Asuh, Karakter Kebangsaan,Panti Asuhan.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Pada umumnya, anak bersifat egosentris sehingga tidak mengherankan bahwa konsep mengenai “orang tua” didasarkan atas perlakuan orang tua terhadap mereka, terutama di bidang disiplin, pengasuhan dan rekreasi (Hurlock, 2007). Menurut Nuraeni (2006) pola asuh orang tua adalah pola perilaku yang diterapkan pada anak dan bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak, dari segi negatif dan positif. Pola asuh yang benar bisa ditempuh dengan memberikan perhatian yang penuh serta kasih sayang pada anak dan memberinya waktu yang cukup untuk menikmati kebersamaan dengan seluruh anggota keluarga.
Setiap anak tumbuh dan berkembang melalui proses belajar tentang dirinya sendiri dan dunia sekitarnya. Pola asuh yang tepat dari orang tua terutama ibu sangat mempengaruhi proses pembelajaran ini. Ibu .lebih berperan besar dalam menjalankan pola asuh untuk membentuk dan mengembangkan pola asuh seorang anak. Namun, tidak semua anak-anak memiliki keluarga, terutama ibu. Telah dikenal istilah anak yatim piatu. Pada umumnya anak-anak ini diasuh di panti asuhan dengan pola asuh tradisional dan mereka mendapat ancaman besar berkaitan dengan karakter kebangsaan yang harusnya dibentuk orang tua.
         Berdasarkan beberapa penelitian mengenai keadaan anak panti asuhan, menggambarkan adanya hambatan perkembangan psikologis maupun sosial anak panti asuhan, dimana anak panti asuhan lebih kaku dalam berhubungan sosial dengan orang lain, perkembangan kepribadian dan penyesuaian sosialnya kurang memuaskan (Hartini, 2001); serta secara umum merasa kurang diterima oleh guru dan teman sebaya (Prahastuti, 1997), yang dibandingkan dengan anak yang tinggal dengan keluarga pada umumnya. Hal-hal tersebut menunjukkan tidak terpenuhinya kebutuhan anak panti asuhan secara psikologis maupun sosial seperti layaknya anak-anak lain yang memiliki keluarga. Maka dibutuhkan peran ibu pengganti yang paling dapat mendekati peran ibu biologis, yaitu yang dapat menciptakan suasana dan kondisi yang memungkinkan terpenuhinya segala kebutuhan fisik, psikologis maupun sosialnya sehingga terbentuk pola asuh tradisional yang umumnya diterapkan di panti asuhan dapat digantikan dengan pola asuh yang lebih tepat, yaitu pola asuh authorative yang bersinergi dengan ibu asuh. Hal ini juga berpengaruh terhadap penanaman karakter kebangsaan anak-anak di panti asuhan.
1.2    Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana pengaruh pola asuh tradisional terhadap karakter kebangsaan anak-anak yatim piatu di panti asuhan?
1.2.2 Mengapa pola asuh tradisional perlu diganti dengan pola asuh authoritative yang bersinergi dengan ibu asuh untuk menigkatkan karakter anak-anak tanpa ibu di panti asuhan?
1.2.3 Bagaimana dampak penerapan pola asuh ini terhadap karakter kebangsaan anak-anak tanpa ibu?
1.3    Tujuan Penulisan
1.3.1 Mengetahui pengaruh pola asuh tradisional terhadap karakter kebangsaan anak-anak yatim piatu di panti asuhan.
1.3.2 Mengetahui alasan pola asuh tradisional perlu diganti dengan pola asuh authoritative yang bersinergi dengan ibu asuh untuk menigkatkan karakter anak-anak tanpa ibu dip anti asuhan.
1.3.3 Mengetahui dampak penerapan pola asuh authoritative yang bersinergi dengan ibu asuh terhadap karakter kebangsaan anak-anak tanpa ibu.
1.4    Manfaat Penulisan
1.1.1  Manfaat bagi Pemerintah
a.    Memberikan informasi kepada pemerintah mengenai perlunya perbaikan
     pola asuh di panti asuhan.
b.Membantu dalam memberikan ide untuk menciptakan generasi penerus
  bangsa yang berkarakter kebangsaan.
1.1.2  Manfaat Panti Asuhan
a.   Menambah pengetahuan mengenai pola asuh yang tepat.
b.   Membantu pengembangan karakter kebangsaan anak-anak pantia asuhan tanpa kasih sayang seorang ibu.
1.1.3  Manfaat bagi pelajar
a.      Menambah pengetahuan mengenai pembentukan karakter kebangsaan.
b.   Memberikan inspirasi untuk penelitian lebih lanjut mengenai pengembangan karakter kebangsaan anak-anak tanpa ibu di panti asuhan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1    Tinjauan Mengenai Panti Asuhan
         Panti asuhan merupakan suatu lembaga yang sangat populer untuk membentuk perkembangan anak-anak yang tidak memiliki keluarga ataupun yang tidak tinggal bersama dengan keluarga. Anak-anak panti asuhan diasuh oleh pengasuh yang menggantikan peran orang tua dalam mengasuh, menjaga dan meberikan bimbingan kepada anak agar anak menjadi manusia dewasa yang berguna dan bertanggung jawab atas dirinya dan terhadap masyarakat di kemudian hari (Santoso, 2005).
Panti asuhan merupakan salah satu lembaga perlindungan anak yang berfungsi untuk memberikan perlindungan terhadap hak-hak anak (pedoman perlindungan anak, 1999). Pada umumnya, panti asuhan di kota-kota besar mencoba berusaha mengatasi permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi pada anak dimana panti asuhan tersebut menampung anak-anak yang mengalami berbagai permasalahan (Muchti, 2000).
Menurut Himpunan Peraturan Perundang-undangan tentang perlindungan anak (2002), Undang-Undang Republik Indonesia No.4 Tahun 1979 pasal 2 ayat 1, tampak jelas terlihat bahwa setiap anak berhak untuk mendapat kesejahteraan, perawatan, asuhan, dan bimbingan berdasarkan kasih sayang baik dalam keluarganya maupun di dalam asuhan khusus untuk tumbuh dan berkembang wajar.
Penghuni panti asuhan bukan saja anak-anak, tetapi mulai dari anak-anak hingga dewasa. Penghuni panti asuhan tersebut adalah orang-orang yang mengalami berbagai permasalahan sosial (Muchti, 2000). Sensus penduduk yang dilakukan pemerintah pada tahun 2004 tercatat sebanyak 5,2 juta anak yang mengalami permasalahan sosial dan sebagian besar adalah remaja.
2.2    Tinjauan Mengenai Anak-anak Yatim Piatu
         Yatim Piatu adalah seseorang yang tidak lagi memiliki ayah dan ibu, sedangkan Yatim, dari bahasa Arab, artinya seseorang yang tidak memiliki ayah, dan Piatu adalah seseorang yang tidak memiliki ibu lagi (www.wikipedia.com).
2.3    Tinjauan Mengenai Karakter Kebangsaan
         Karakter adalah nilai-nilai yang khas-baik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik, nyataberkehidupan baik, dan berdampak baik terhadap lingkungan) yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku. Karakter secara koheren memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah raga, serta olah rasa dan karsa seseorang atau sekelompok orang. Karakter merupakan ciri khas seseorang atau sekelompok orang yang mengandung nilai, kemampuan, kapasitas moral, dan ketegaran dalam menghadapi kesulitan dan tantangan.
Karakter bangsa adalah kualitas perilaku kolektif kebangsaan yang khas-baik yang tecermin dalam kesadaran, pemahaman, rasa, karsa, dan perilaku berbangsa dan bernegara sebagai hasil olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, serta olah raga seseorang atau sekelompok orang. Karakter bangsa Indonesia akan menentukan perilaku kolektif kebangsaan Indonesia yang khas-baik yang tecermin dalam kesadaran, pemahaman, rasa, karsa, dan perilaku berbangsa dan bernegara Indonesia yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila, norma UUD 1945, keberagaman dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika, dan komitmen terhadap NKRI.
Pembangunan Karakter Bangsa adalah upaya kolektif-sistemik suatu negara kebangsaan untuk mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan dasar dan ideologi, konstitusi, haluan negara, serta potensi kolektifnya dalam konteks kehidupan nasional, regional, dan global yang berkeadaban untuk membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, patriotik, dinamis, berbudaya, dan berorientasi Ipteks berdasarkan Pancasila dan dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2.4    Tinjauan Mengenai Pola Asuh Panti Asuhan
Panti asuhan umumnya memakai salah satu dari dua sistem pengasuhan dalam mendidik anak-anak asuhnya, yaitu sistem pengasuhan tradisional dan sistem pengasuhan ibu asuh. Kedua sistem pengasuhan tersebut memiliki perbedaan pada rasio anak dengan pengasuh, stabilitas dan kontinuitas interaksi pengasuh dengan anak serta demokratisasi pola asuh pengasuh. Mulyati (1997) pada hasil penelitiannya mengatakan bahwa tidak ada perbedaan tingkat kompetensi interpersonal anak-anak yang diasuh dengan sistem pengasuhan tradisional dengan anak yang diasuh dengan sistem pengasuhan ibu asuh.
Peneliti tetap berpendapat bahwa kedua sistem pengasuhan di panti asuhan tersebut, akan membawa pengaruh yang berbeda pada perkembangan psikologis maupun sosial anak.
Hasil penelitian didapatkan ada perbedaan kecerdasan emosional pada anak panti asuhan antara dua sistem pengasuhan yang berbeda, dimana kecerdasan emosional anak panti asuhan dengan sistem pengasuhan ibu asuh lebih tinggi dibandingkan dengan anak panti asuhan dengan sistem pengasuhan tradisional. Hasil ini juga membuktikan bahwa konstruk kecerdasan emosional lebih dapat menunjukkan perbedaan bagi kedua sistem pengasuhan tersebut, dibandingkan dengan konstruk kompetensi interpersonal, mengingat kompetensi interpersonal merupakan bagian dari kecerdasan emosional.
2.5    Tinjauan Mengenai Pola Asuh Authoritative
Pola authoritative mendorong anak untuk mandiri, tapi orang tua tetap menetapkan batas dan kontrol. Orang tua biasanya bersikap hangat, dan penuh welas asih kepada anak, bisa menerima alasan dari semua tindakan anak, mendukung tindakan anak yang konstruktif. Anak yang terbiasa dengan pola asuh authoritative akan membawa dampak menguntungkan. Di antaranya anak akan merasa bahagia, mempunyai kontrol diri dan rasa percaya dirinya terpupuk, bisa mengatasi stres, punya keinginan untuk berprestasi dan bisa berkomunikasi baik dengan teman-teman dan orang dewasa. Dengan adanya dampak positif tersebut, pola asuh authoritative adalah pola asuh yang bisa dijadikan pilihan bagi orang tua.
2.6    Tinjauan Mengenai Ibu Asuh
GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh) sudah lama dicanangkan oleh pemerintah. Gerakan ini perlu dipupuk dan dikembangkan lagi agar mencapai jumlah yang lebih banyak. Orang tua asuh yang dimaksud di sini adalah keluarga yang berkecukupan dan memiliki kepedulian terhadap anak-anak jalanan dengan cara memberikan bantuan berupa kebutuhan hidup atau biaya sekolah bagi anak-anak jalanan. Namun, pada tulisan ini lebih ditekankan mengenai peran ibu asuh dalam konteks orang tua asuh.
Menurut Friedman dalam Effendy (1998), peran ibu didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengasuh, mendidik dan menentukan nilai kepribadian. Peran pengasuh adalah peran dalam memenuhi kebutuhan pemeliharaan dan perawatan anak agar kesehatannya terpelihara sehingga diharapkan mereka menjadi anak – anak yang sehat baik fisik, mental, sosial dan spiritual. Selain itu peran pengasuh adalah peran dalam memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman, kehangatan kepada anggota keluarga sehingga memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang sesuai usia dan kebutuhannya.
BAB III
METODE PENULISAN
3.1    Kerangka Konseptual

 

3.2    Metode Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data guna menunjang penulisan ini adalah :
1.     Metode studi pustaka, yakni metode yang digunakan dengan mengkaji data – data mengenai terumbu karang dan pemanfatannya dalam pengembangan pariwisata di Bali dari buku – buku, internet dan literatur lainnya. Pengumpulan data secara studi pustaka dimulai pada tanggal 14 Desember-21 Desember 2011.
2.     Metode observasi, yakni metode yang digunakan dengan mengamati lingkungan sekitar yang berkaitan dengan tulisan. Pengumpulan data secara observasi dimulai pada tanggal 14 Desember-21 Desember 2011.
3.3    Metode Analisis Data
Setelah data – data terkumpul dari hasil pengumpulan data, selanjutnya dilakukan kegiatan menganalisis data. Data yang diperoleh dari hasil pengumpulan data dianalisis dengan menggunakan metode analisis diskriptif ( kualitatif ). Analisis deskriptif ( kualitatif ) ditujukan untuk mendapatkan berbagai kondisi yang ada di lapangan dan mengikutsertakan pernyataan dari sebuah dokumen atau seseorang yang ahli dibidang data tersebut.
Adapun hasil kualitatif adalah perbandingan antara kondisi riil di lapangan dengan kondisi ideal yang diperoleh dari pendapat yang ahli mengenai penanaman karakter kebangsaan anak-anak panti asuhan.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1    Pengaruh Pola Asuh Tradisional terhadap Karakter Kebangsaan Anak-
         anak Panti Asuhan
Panti asuhan sebagai tempat bernaung anak-anak yatim piatu sudah sepantasnya berlandaskan pada pola asuh nondiskriminan mengingat peran orang tua tidak terlalu sentral dan statis. Sebagian besar panti asuhan di Indonesia menganut pola asuh tradisional (Miriam Budiarjo; 1.9: 2009). Padahal pola suh tersebut sudah tidak relevan lagi dengan kehidupan jaman sekarang. Selaras dengan hal tersebut, anak yatim piatu memiliki hak yang sama dengan anak-anak lainnya, yaitu mengembangkan dirinya melalui karakter kebangsaan. Untuk itu, agar upaya tersebut maksimal pola asuh yang tepat adalah pola asuh modern.
Sebagai pembanding, berikut akan ditampilkan perbedaan antara pola asuh tradisional dan modern:
No
Pola Asuh Tradisional
Pola Asuh Modern
1.
Orde Lama
Reformasi
2.
Kekerasan/ diktaktorisme
Demokratis
3.
Mengedepankan dominasi orang tua
Menjunjung kewajiban dan hak anak-anak selaras dengan peran orang tua dan lingkungan
4.
Diferensiasi sosial (SARA)
Stratifikasi sosial (pembagian kerja, pendidikan)
5.
Statis
Dinamis
6.
Tradisi
Norma-norma dan produk hukum
7.
Membiarkan tanpa pengawasan
Memberi kebebasan disertai pengawasan

 

Berdasarkan alur pikir pembangunan karakter bangsa, pendidikan merupakan salah satu strategi dasar dari pembangunan karakter bangsa yang dalam pelaksanaannya harus dilakukan secara koheren dengan beberapa strategi lain. Strategi tersebut mencakup, yaitu sosialisasi/penyadaran, pemberdayaan, pembudayaan dan kerjasama seluruh komponen bangsa. Pembangunan karakter dilakukan dengan pendekatan sistematik dan integratif dengan melibatkan keluarga, satuan pendidikan, pemerintah, masyarakat sipil, anggota legislatif, media massa, dunia usaha, dan dunia industri (Buku Induk Pembangunan Karakter, 2010). Sehingga satuan pendidikan adalah komponen penting dalam pembangunan karakter yang berjalan secara sistemik.
Dalam skema tersebut juga digambarkan tentang konsensus 4 pilar berbangsa dan bernegara, seperti pancasila, UUD, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI. Yang terpenting dalam pembangunan karakter kebangsaan adalah moral yang terbentuk atas dasar ieologi bangsa. Dalam pola asuh tradisional yang menganut sistem protradisi sehingga nilai-nilai kebangsaan tidak lazim digunakan.
Adapun pengaruh pola asuh tradisional terhadap karakter kebangsaan anak-anak panti asuhan antara lain:
1.      Mencetak generasi muda yang tidak bertanggung jawab
         Dalam pola asuh tradisional terdapat dua karakteristik yang saling bertolak belakang, yaitu membiarkan tanpa pengawasan dan diktaktorisme. Jadi jika dibiarkan tanpa adanya pengawasan maka anak akan bebas melakukan apa saja tanpa peduli lingkungan di sekitar mereka. Lain halnya jika diberi pengawasan, maka orang tua khususnya ibu bisa langsung mengendalikan perilaku anak dan anak akan lebih bertanggung jawab terhadap setiap perbuatannya.
2.      Timbulnya pribadi yang tertutup
         Pada era reformasi seperti sekrang ini, hal yang sangat dijunjung demi terciptanya masyarakat madani adalah keterbukaan dan keadilan. Dalam pola asuh tradisional, dominasi orang tua dan diktaktorisme sangat kental adanya. Ketika kehidupan anak, apalagi anak yatim piatu yang notabene tidak memperolah kasih sayang orang tua kandung secara penuh, diwarnai oleh kekerasan dan ketidakadilan, maka ia akan tertekan. Anak cenderung enggan untuk mengekspresikan apa yang ia inginkan karena takut jika orang tua (dalam hal ini kerabat terdekat) tidak menyetujuinya.
3.      Melahirkan pribadi yang tidak tangguh
         Kehidupan tradisional begitu juga pola asuh tradisional erat kaitannya dengan pola hidup yang statis. Padahal, era globalisasi menuntut adanya perkembangan dan input dari segenap masyarakat. Ilmu pengetahuan serta teknologi tidak akan bisa berkembang jika masyarakatnya tidak mau bersikap terbuka dan dinamis. IPTEK sangat berperan penting dalam pencitraan negara yang maju dan tangguh dalam hal IPOLEKSOSBUDHANKAM . Bayangkan saja, jika masyarakat tidak mau menerima terknologi dalam hal persenjataan, bagaimana suatu negara bisa memperkuat sistem pertahan dan keamanan mereka. Jika di implikasikan dengan sosok seorang anak, ketika mereka dibiarkan tidak terlibat dalam keterbukaan dan kedinamisan maka ia tidak akan memiliki kekuatan dan ilmu yang cukup untuk masa depan dan mempertahankan hidupnya di tengan era globalisasi ini.
4.2    Pola Asuh Authoritative yang Bersinergi dengan Ibu Asuh sebagai Pola Asuh yang Tepat dalam Membentuk Karakter Kebangsaan Anak-anak Panti Asuhan
Pembentukan karakter yang paling efektif jika dimulai dari lingkungan keluarga dan diterapkan sejak usia dini. Menurut Jean Piaget dan Lewrence Kohlberg, moralitas anak bersifat heteronomos; moralitas anak dibentuk oleh norma yang ditanamkan oleh individu dari luar dirinya yaitu mereka yang berhubungan paling dekat dengannya, terutama lingkungan keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu, adik dan kakak. Namun, peran ibu masih menduduki peringkat tertinggi dalam memmbentuk karakter anak.
Pendidikan karakter diharapkan dapat menghasilkan anak-anak yang memiliki kompetensi personal dan sosial sehingga menjadi warga negara yang baik (good care atau good citizen) dengan ciri-cirinya antara lain: berani mengambil sikap positif untuk menegakkan norma-norma sosial, membuat aturan hukum yang kondusif untuk kebaikan dan nilai-nilai moral demi masa depan bangsa yang mengedepankan nilai-nilai kasih yang baik, anti diskriminasi, inklusifisme, humanisme, pluralisme, kebebasan, persamaan, persaudaraan, kesatuan, kebangsaan, kebhinekaan, multikultural, nasionalisme, demokrasi dan demokratisasi yang bersumber pada nilai-nilai agama sebagai paradigmanya.
Setiap anak memerlukan keluarga, khususnya ibu untuk membangun dan mengambangkan karakter dalam dirinya. Pembentukan karakter terjadi karena dua unsur yaitu faktor indogin dan eksogin; faktor indogin secara psikologis manusia memiliki karakter bawaan seperti sifat-sifat kolerik, sanguinis, flagmaitik dan melangkolis. Namun demikian tidak menutup kemungkinan tiap individu mempunyai gabungan di antara karakter model-model yang memiliki sifat-sifat tersebut di atas. Karakter bawaan ini bisa dibentuk menjadi karakter ideal melalui pendidikan sejak anak usia dini, sehingga menghasilkan watak yang baik sesuai dengan nilai-nilai diharapkan oleh komunitas dan jiwa jaman. Faktor eksogin atau pengaruh dari luar bisa berupa pengaruh keluarga, pendidikan formal, non formal dan masyarakat yang melingkupi kehidupan personal. Melalui faktor eksogin inilah peran ibu sangat diperlukan. Namun, mengingat kekurangan seorang anak yatim piatu di pantu asuhan, dapat dipastikan pengembangan karakternya akan terhambat. Apalagi, jika pola asuh tradisional yang berbasis “pembebasan” masih tetap dikembngkan. Maka, karakter anak tersebut, termasuk karakter kebangsaan tidak akan dapat dibentuk dengan baik. Sehingga, diperlukan pola asuh pengganti untuk mereka, yaitu pola asuh authoritarian yang bersinergi dengan ibu asuh.
Pola authoritative mendorong anak untuk mandiri, tapi orang tua tetap menetapkan batas dan kontrol. Orang tua biasanya bersikap hangat, dan penuh welas asih kepada anak, bisa menerima alasan dari semua tindakan anak, mendukung tindakan anak yang konstruktif. Pola asuh ini sangat baik dikembangkan di panti asuhan dan perlu disinergikan dengan peran ibu asuh. Ibu asuh yang dimaksud dalam karya tulis ini bukan satu ibu untuk satu anak. Mengingat masih kurangnya sukarelawan yang bersedia menjadi ibu asuh. Sehingga, alternative yang tepat adalah satu ibu asuh untuk satu kelompok anak panti asuhan yang terdiri dari lima orang.  Sehingga, terdapat seorang ibu sosial (ibu asuh) yang tetap dapat menjalankan fungsi ibu biologis dalam menanamkan karakter kebangsaan bagi anak-anak panti asuhan.
4.3    Dampak Peran Ibu Asuh dalam Penerapan Pola Asuh Authoritative  di
         Panti Asuhan
         Proses pendidikan karakter didasarkan pada totalitas psikologis yang mencakup seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, psikomotorik) dan fungsi totalitas sosiokultural dalam konteks interaksi dalam keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat. Totalitas psikologis dan sosiokultural dapat dikelompokkan sebagaimana yang digambarkan dalam bagan berikut:

 

         Untuk mencapai karakter bangsa yang diharapkan sebagaimana tersebut di atas, diperlukan individu-individu yang memiliki karakter. Oleh karena itu, dalam upaya pembangunan karakter bangsa diperlukan upaya sungguh-sungguh untuk membangun karakter individu (warga negara). Secara psikologis karakter individu dimaknai sebagai hasil keterpaduan empat bagian, yakni olah hati, olah pikir, olah raga, olah rasa dan karsa. Olah hati berkenaan dengan perasaan sikap dan keyakinan/keimanan. Olah pikir berkenaan dengan proses nalar guna mencari dan menggunakan pengetahuan secara kritis, kreatif, dan inovatif. Olah raga berkenaan dengan proses persepsi, kesiapan, peniruan, manipulasi, dan penciptaan aktivitas baru disertai sportivitas. Olah rasa dan karsa berkenaan dengan kemauan dan kreativitas yang tecermin dalam kepedulian, pencitraan, dan penciptaan kebaruan.
         Sebelum beranjak pada dampak peran ibu asuh, berikut akan disajikan tabel pembanding antara pola ibu asuh dan pola asuh tradisional berdasalkan hasil pengamatan dan observasi penulis:
No.
Keterangan
Intensitas
Pola Ibu Asuh
Pola Asuh Tradisional
T
S
R
T
S
R
1
Interaksi anak dengan pengasuh
2
Stabilitas dan kontinuitas interaksi
3
Demokratisasi pola asuh pengasuh
4
Kecerdasan emosional anak panti asuhan
5
Pemenuhan kebutuhan fisik
6
Pemenuhan kebutuhan psikologis
Keterangan           :
T                             : Tinggi
S                              : Sedang
R                             : Rendah
Penghuni panti asuhan adalah orang-orang yang mengalami berbagai permasalahan sosial (Muchti, 2000). Sensus penduduk yang dilakukan pemerintah pada tahun 2004 tercatat sebanyak 5,2 juta anak yang mengalami permasalahan sosial dan sebagian besar adalah remaja. Dari data tersebut jika diimplikasikan dengan tabel diatas maka akan sangat riskan jika pola pengasuhan tradisional masih diterapkan di lingkungan panti asuhan. Karena, dalam pengasuhan tradisional tidak terdapat pola asuh yang tepat secara psikologis bagi anak.
Maka dari itu, pengasuhan akan lebih tepat jika diserahkan kepada ibu asuh karena, ibu sendiri memiliki keterikatan sosial, emosional, dan kasih sayang yang jauh lebing tinggi dibanding ayah, saudara, atau kerabat terdekat (Jean Piaget; 2001). Adapun pola asuh yang paling tepat dan bersinergi dengan ibu asuh adalah pola asuh authoritative.
Dampak peran ibu asuh dalam penerapan pola asuh authoritative  di panti asuhan, antara lain:
1.      Tumbuhnya pribadi yang mandiri
         Pola asuh authoritative memampukan anak mengembangkan kontrol terhadap perilakunya sendiri dengan hal – hal yang dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini mendorong anak untuk mampu berdiri sendiri, bertanggung jawab dan yakin terhadap diri sendiri.
2.      Anak-anak, khususnya di lingkungan panti asuhan akan lebih terbuka
         Pola asuh demokratis merupakan pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu – ragu mengendalikan mereka. Pola asuh demokrasi ini ditandai dengan adanya sikap terbuka antara ibu dan anak. Mereka membuat aturan – aturan yang disetujui bersama. Anak diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapat, perasaan dan keinginannya dan belajar untuk dapat menanggapi pendapat orang lain. Ibu bersikap sebagai pemberi pendapat dan pertimbangan terhadap aktivitas anak.
3.      Anak merasa tidak tertekan
         Pola asuh authoritative adalah suatu bentuk pola asuh yang memperhatikan dan menghargai kebebasan anak, namun kebebasan itu tidak mutlak dan dengan bimbingan yang penuh pengertian antara ibu dan anak. Dengan kata lain, pola asuh ini memberikan kebebasan kepada anak untuk mengemukakan pendapat, melakukan apa yang diinginkannya dengan tidak melewati batas – batas atau aturan – aturan yang telah ditetapkan orang tua. Ibu juga selalu memberikan bimbingan dan arahan dengan penuh pengertian terhadap anak mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Hal tersebut dilakukan orang tua dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang.
4.      Menciptakan anak yang berdayakreatif dan kooperatif dengan lingkungan
         Pola asuh authoritative adalah suatu bentuk pola asuh yang memperhatikan dan menghargai kebebasan anak, namun kebebasan itu tidak mutlak dan dengan bimbingan yang penuh pengertian antara ibu dan anak. Dengan kata lain, pola asuh ini memberikan kebebasan kepada anak untuk mengemukakan pendapat, melakukan apa yang diinginkannya dengan tidak melewati batas – batas atau aturan – aturan yang telah ditetapkan. Ibu juga selalu memberikan bimbingan dan arahan dengan penuh pengertian terhadap anak mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Hal tersebut dilakukan dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang.
BAB V
PENUTUP
5.1    Simpulan
5.1.1 Pola asuh tradisional berdampak negatif terhadap perkembangan karakter kebangsaan anak-anak panti asuhan. Antara lain mencetak generasi muda yang tidak bertanggung jawab, timbulnya pribadi yang tertutup, dan melahirkan pribadi yang tidak tangguh.
5.1.2 Pola asuh authoritative sangat baik dikembangkan di panti asuhan dan perlu disinergikan dengan peran ibu asuh (satu ibu asuh untuk satu kelompok anak panti asuhan yang terdiri dari lima orang).
5.1.3 Pola asuh yang paling tepat dan bersinergi dengan ibu asuh adalah pola asuh authoritative. Hal Ini karena pola asuh tersebut berdampak positif terhadap tumbuh kembang karakter kebangsaan anak, antara lain tumbuhnya pribadi yang mandiri, anak-anak (khususnya di lingkungan panti asuhan) akan lebih terbuka, anak merasa tidak tertekan, dan menciptakan anak yang berdayakreatif dan kooperatif dengan lingkungan.
5.2    Saran
5.2.1 Bagi Pemerintah
         Pemerintah sebaiknya menetapkan peraturan untuk memperjelas dan mempermudah akses agar program ibu asuh ini dapat terealisasi dan diimplementasikan. Pemerintah juga harus segera dan secara kontinu menyosialisasikan program ini (ibu asuh dan pola asuh authoritative) kepada masyarakat dan panti asuhan yang tersebar di Indonesia.
5.2.2 Bagi Panti Asuhan
         Setelah program ibu asuh ini terealisasi, diharapkan pelaku atau orang-orang yang terlibat di dalam panti asuhan mau dan mampu untuk mengimplementasikan program ini, khususnya pola asuh authoritative baik kepada anak-anak panti maupun ibu asuh nantinya.
5.2.3 Bagi Masyarakat
         Masyarakat diharapkan ikut mendukung dan menyukseskan program ini terutama saat pemerintah menetapkan aturan-aturan terkait. Masyarakat bias ikut menyosialisasikan atau terlibat langsung menjadi ibu asuh.
DAFTAR PUSTAKA
Bobbi DePorter & Mike Hernacki, 2003. Quantum Learning. Jakarta.
Budi Istanto, 2007. Pentingnya Pendidikan Moral Bagi Generasi Penerus.
          Yogyakarta: FIP. UNY.
Eomi Toufiqoh, 2007. Pentingnya Pendidikan Moral, Yogyakarta: FBS, UNY.
Habibah, 2007. Pendidikan Moral. Makalah FIP UNY.
Parjono, 2005. Pendidikan Moral. Lemlit, UNY.
Robet MZ Lawang, 1986. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Penerbit Karunika.
        Universitas Terbuka.
Slamet Suyanto, 2005. Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta.
Sofia Hartati, 2005. Pendidikan Anak Usia Dini, Makalah FIP UNY.
Tan Giok Lie. 2007. Pendidikan Dini: Pembentukan Karakter Individu. Bandung:
        STT INTI.
Verkulyl, J. 1985. Etika Kristen. Jakarta: Gunung Mulia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: