Karya Tulis “Kehidupan Sosial-Budaya Desa Adat Penglipuran”

7 Feb

 

Karya Tulis

“Kehidupan Sosial-Budaya Desa Adat Penglipuran”

Kelas IX A

SMP Negeri 3 Denpasar

Tahun Ajaran 2009/2010

Disusun Oleh:

Ketua Kelompok:

Ni Made Chyntia Trisna Eva Dewi (09)

 

 

 

 

 

Kata Pengantar

Om Swastiastu,

Atas Asung Kertha Waranugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun karya tulis mengenai “Kehidupan Sosial-Budaya Desa Adat Penglipuran” dengan baik.

Dalam karya tulis ini, kami sebagai penyusun mencoba untuk membuat laporan semenarik dan selengkap  mungkin dengan berbagai macam informasi agar para pembaca dapat mengambil banyak manfaat dan wawasan mengenai Desa Adat Penglipuran.

Demikianlah karya tulis ini kami buat, tidak lupa saya mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada guru pembimbing, narasumber-narasumber, Kelihan Adat, dan pihak-pihak lain  yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang telah membantu kami dalam penyelesaian tugas akhir ini. Dan kami juga mohon maaf kepada pihak-pihak yang merasa dirugikan. Selain itu, jika ada kesalahan dalam kata-kata dan penulisan mohon dimaafkan.Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan.

Om Santih, Santih, Santih, Om

                                                                   Denpasar, Desember 2009

                                                                   Penyusun

Daftar isi

Halaman judul…………………………………………………   1

Kata pengantar…………………………………………………   2

Daftar isi………………………………………………………..  3

Bab. 1……………………………………………………………………..4

1.1     Latar belakang………………………………………………4

1.2     Tujuan………………………………………………………4

1.3            Rumusan masalah…………………………………………..4

Bab. 2…………………………………………………………………….5

Bab. 3…………………………………………………………………….9

Kesimpulan………………………………………………………..9

Saran……………………………………………………………..10

Daftar pustaka…………………………………………………………..11

Bab. 1

1.1    Latar belakang

Kami memilih tema “Kehidupan Sosial-Budaya Desa Adat Penglipuran” karena kehidupan sosial-budaya di desa tersebut sangat menarik untuk dipelajari. Kehidupan sosial-budaya yang sangat tradisional sangat jarang ditemui ditengah-tengah masa globalisasi seperti sekarang ini, dan tentu saja kami sangat ingin mengetahui lebih jelas mengenai kehidupan social budaya Desa Panglipuran yang dijuluki sebagai Desa Adat, Desa Budaya, dan Desa Wisata.

1.2    Tujuan

Tujuan kami mempelajari kehidupan sosial-budaya desa adat Penglipuran adalah:

a. Mengetahui kehidupan sosial masyarakat setempat.

b.Mengetahui kegiatan sehari-hari masyarakat setempat.

c. Mengetahui cara masyarakat bersosialisasi.

  1. Mengetahui kegiatan dan cara muda-mudi dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari maupun dalam menyambut hari-hari besar keagamaan.

e. Mengetahui kehidupan budaya masyarakat setempat.

f. Mengetahui ciri khas budaya masyarakat setempat.

g.Mengetahui alasan mayarakat setempat masih menjaga tradisi.

h.Mengetahui seberapa sering wisatawan datang ke desa tersebut.

1.3    Rumusan masalah

a. Apakah bisa dikatakan bahwa Desa Penglipuran sebagai “Desa Budaya” yang sedikit banyak belum terpengaruh modernisasi?

b.Bagaimana cara penduduk di sini untuk mempromosikan Desa Penglipuran sebagai objek wisata ke daerah luar?

c. Apakah nama tempat untuk pertemuan warga di desa ini? Apa saja kegiatan yang dilakukan di tempat tersebut?

  1. Apakah di sini terdapat kelompok muda-mudi dan apa saja kegiatannya?

e. Apakah cirri khas budaya yang paling ditonjolkan dari Desa Penglipuran ini?

f. Mengapa sampai sekarang ciri khas tersebut masih dijaga atau bahkan sangat ditonjolkan? Apakah ada kaitannya dengan objek wisata disini?

g.Apakah desa ini memiliki kesenian khusus?

h.Adakah kerajinan tangan khusus yang diproduksi penduduk di sini sekaligus menjadi produk andalan pariwisata?

  1. Seberapa sering kiranya wisatawan yang datang kemari dan rata-rata dari mana saja asal wisatawan tersebut?
  2. Mengapa rumah-rumah penduduk terbuat dari bambu dan disusun berderet dan apakah hal ini sudah menjadi tradisi nenek moyang?

k.Apakah prinsip yang selalu dipegang teguh penduduk di sini sehingga mereka mampu menjaga tradisi hingga sekarang dan adakah keyakinan tertentu?

  1. Apakah peran serta warga dalam mempertahankan adat istiadat di sini?

m.Apakah ada program-program khusus yang sedang dilaksanakan pemerintah          maupun tokoh-tokoh adat di sini dalam rangka menjaga tradisi Desa         Penglipuran?

Bab. 2

Kehidupan Sosial-Budaya Desa Adat Penglipuran

Keasrian Desa Adat Penglipuran

Tampak depan Desa Adat Penglipuran

Desa Penglipuran merupakan salah satu daerah di Bali terutama di Kabupaten Bangli yang memiliki banyak julukan, diantaranya: Desa                                                        Adat, Desa Budaya, dan Desa Wisata.                                             Daerah yang juga termasuk Desa Bali                                                   Aga ini masih mempertahankan tradisi                                            nenek moyang baik dalam hal kehidupan                                         sosial maupun budayanya. Disamping itu,                                            masyarakat dalam setiap kegiatannya                                                           baik dalam kegiatan sehari-hari maupun                                          dalam menyambut hari besar keagamaan,                                        masih menggunakan cara-cara                                                                    tradisional.

Sehubungan dengan dijulukinya desa ini sebagai Desa Adat, maka dalam setiap upacara keagamaan, seperti pernikahan dan upacara pengabenan memiliki ciri khas tersendiri. Dalam upacara pernikahan, biasanya    masyarakat    setempat  mengadakan upacara tersebut

di     Bale    Gede

yang  berhadapan

langsung  dengan

dapur .       Tidak

seperti    di  desa-

desa   lain    yang

melaksankan

Dapur

Bale Gede

upacara pernikahan

di Bale    Dangin.    Selain  itu,  dalam   kehidupan berumah     tangga,   setiap    pasangan  dilarang untuk    melakukan    poligami   atau   poliandri. Jika      ada      masyarakat    yang      melanggar, maka pihak tersebut akan diasingkan ke suatu tempat yang disebut Karang Batu, dimana tempat tersebut disediakan oleh masyarakat setempat secara cuma-cuma, namun dengan satu syarat pihak yang melakukan poligami atau poliandri tersebut dilarang untuk mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan Desa Penglipuran, baik itu pertemuan-pertemuan di Balai Banjar, upacara-upacara keagamaan, kegiatan sosial, dll. Disamping upacara pernikahan, upacara pengabenannya pun berbeda, karena dalam upacara pengabenan, mayatnya tidak dibakar melainkan hanya dengan dikubur mengikuti tradisi masyarakat Bali Aga lainnya. Selain itu, salah satu syarat pengabenannya harus menggunakan sesajen sapi. Dimana jumlah sesajen sapi yang dipersembahkan tergantung pada jumlah orang yang meninggal.

Angkul-angkul

Selain dijuluki Desa Adat, Desa Penglipuran                          juga dijuluki Desa Budaya. Hal itu bisa kita lihat dari                             susunan   rumah    yang dibuat berderet-deret serta                                   angkul-angkul yang dibuat nampak sama, yaitu dari                       bahan bambu. Hal itulah yang menjadi ciri khas desa                      ini. Rumah yang disusun berderet-deret memang                                   sudah menjadi tradisi sejak jaman nenek moyang dan                           sudah menjadi aturan masyarakat setempat. Namun                              masyarakat masih bisa merubah bentuk rumah mereka                             menjadi lebih modern. Tapi dengan satu syarat mereka tidak boleh merubah bentuk maupun letak Bale Gede dan dapur yang saling berhadapan.

Salah    satu   hal  yang menunjukkan

modernisasi  di   desa    ini,   yaitu semakin

banyaknya masyarakat yang menggunakan

teknologi-teknologi  canggih  seperti   yang

dapat    kita   saksikan   di  kota-kota  besar,

diantaranya  semakin    banyak  masyarakat

yang memiliki sepeda motor, menggunakan

kompor   gas   dalam   memasak,   memiliki

televisi,  bahkan  beberapa penduduk sudah

ada yang memiliki  komputer (dalam hal ini

internet). Internet      digunakan       sebagai

Penggunaan sepeda motor

salah    satu   media  untuk mempromosikan

Desa Penglipuran itu sendiri. Sehubungan dengan itu, daerah yang banyak ditumbuhi pohon bambu ini, mendorong masyarakatnya untuk membuat kerajinan tangan dari bambu, seperti: bokor, kapar, dll, sehingga hal tersebut menjadi mata pencaharian sekaligus sebagai pekerjaan sampingan masyarakat yang rata-rata petani.

Bokor

Kapar

Disamping mendapat julukan Desa Adat dan Desa Budaya, Desa Penglipuran juga dijuluki Desa Wisata. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Desa Penglipuran. Salah satu yang   menarik wisatawan  selain  keasrian dari desa

Penglipuran itu sendiri, juga tari-tarian yang mereka

Tunjukkan      pada     hari-hari    besar   keagamaan,

seperti      Tari   Baris,      Pendet,     dan        Rejang.

Wisatawan    itu     sendiri  rata-rata    berasal     dari

Belanda,     Prancis,     Amerika Serikat,    Australia,

Italia,     Jerman,    dll.    Namun       tidak       jarang

juga masyarakat    lokal  yang    berkunjung ke Desa

Penglipuran  untuk  keperluan  wisata maupun untuk

keperluan syuting FTV-FTV stasiun TV swasta dan

Wisatawan asal Jerman

nasional.

Balai Banjar

Selain kehidupan budayanya, kehidupan sosial Desa Penglipuan pun sangat menarik. Bisa dilihat dari cara mereka berinteraksi dengan masyarakat luar. Mereka selalu menyambut wisatawan yang datang dengan sangat ramah. Mereka selalu berusaha membuat wisatawan yang datang merasa nyaman berada di desa mereka seperti dengan cara mengajak wisatawan-wisatawan tersebut berkeliling. Selain menjaga                                                   interaksi       dengan masyarakat luar,                                                         masyarakat pun selalu menjaga interaksi                                            dengan      masyarakat     setempat,                                                  seperti mengadakan pertemuan-                                                                 pertemuan di Balai Banjar. Begitu juga                                            pada    sore harinya, pada saat mereka                                                 selesai bekerja, masyarakat setempat                                                         pergi ke luar rumah untuk   bercengkrama                                                 dan     biasanya masing- masing   kepala                                                   keluarga berkumpul di halaman luar rumah untuk melakukan kegiatan modong, yaitu mengadu ayam tanpa taji atau pisau.

Selain mengadakan kegiatan di Balai Banjar, masyarakat setempat juga   membentuk  sekaa teruna-teruni dan

PKK.    Setiap    dua    minggu  sekali para

muda-mudi   mengadakan kegiatan gotong

royong    di    pura   dan   kelompok   PKK

mengadakan arisan setiap bulan sekali.

Pura

Bab. 3

Kesimpulan

       Desa Penglipuran merupakan salah satu daerah yang ada di kabupaten Bangli yang masih mempertahankan tradisi nenek moyang, baik dalam hal kehidupan sosial maupun budayanya. Desa Penglipuran memiliki beberapa julukan, diantaranya: Desa Adat, Desa Budaya, dan Desa Wisata. Meskipun dianggap masih mempertahankan tradisi nenek moyang, seperti dalam hal upacara pernikahan dan pengabenan, namun desa ini sedikit banyak sudah terpengaruh oleh modernisasi, diantaranya dalam hal bentuk rumah (kecuali Bale Gede dan dapur), penggunaan kompor gas dalam memasak, menggunakan sepeda motor dalam aktivitas sehari-hari, memiliki televisi, dan menggunakan internet sebagai media pembelajaran dan untuk mempromosikan daerah mereka sendiri.

Saran

          Menurut kami, adanya modernisasi di Desa Penglipuran sangat membantu masyarakat dalam melaksanakan aktivitasnya sehari-hari, namun jangan sampai adanya modernisasi tersebut menyebabkan lunturnya tradisi nenek moyang di daerah setempat. Karena seperti yang bisa kami temukan disana, bahwa beberapa dampak modernisasi, seperti banyaknya masyarakat yang menggunakan sepeda motor menyebabkan terjadinya polusi udara yang dapat merusak keasrian Desa Penglipuran yang selama ini dikenal memiliki udara yang sejuk. Begitu juga dengan penggunaan komputer (internet) dalam pembelajaran, jangan sampai jika masyarakat sudah mahir menggunakannya atau bahkan memiliki situs jejaring sosial (facebook, friendster, twitter, myspace, dll), interaksi penduduk yang satu dengan penduduk yang lain di daerah tersebut menjadi berkurang dan akibatnya timbul rasa acuh tak acuh dari masyarakat dan itu bukanlah tradisi masyarakat setempat yang selama ini dikenal sangat ramah terhadap orang lain. Terlepas dari itu semua, kami juga menyarankan agar masyarakat tetap mempertahankan budayanya dalam hal bentuk rumah, upacara keagamaan, dan tari-tarian, karena hal itulah yang mendorong minat wisatawan untuk berkunjung ke Desa Adat Penglipuran.

Daftar Pustaka

www.google.com

Narasumber:

  • Wayan Supad (Kelihan Adat)
  • Ni Nyoman Puri (45tahun)
  • Ketut Simpen (47tahun)
  • Ni Nengah Erayanti (15 tahun)
  • Mrs. Michell (Jerman, 32 tahun)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: