Makalah Seminar Hari Ibu

7 Feb

SEMINAR SEHARI HARI IBU SMAN 1 DPS

( HARI IBU SEBAGAI MOMENTUM PEMBENTUKAN SUMBER DAYA MANUSIA BERKARAKTER MELALUI PERSPEKTIF PENDEKATAN KESETARAAN GENDER DAN EMANSIPASI WANITA  )

 

 

MAKALAH

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MPS MASA BAKTI 2011/2012

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

 

Om Swastyastu,

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sang HyangWidhi Wasa, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah dengan judul ”Hari Ibu Sebagai Momentum Pembentukan Sumber Daya Manusia Berkarakter Melalui Perspektif Pendekatan Kesetaraan Gender dan Emansipasi Wanita”. Makalah ini disusun dalam rangka penyajian materi dalam Seminar Sehari Hari Ibu SMAN 1 Denpasar.

Dalam kesempatan ini penyusun menyampaikan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada pihak yang telah mendukung penyelesaian makalah ini. Terutama kepada:

  1. Panitia Guru,
  2. Anggota dan Komisi MPS masa bakti 2011/2012,
  3. Serta berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Seperti kata pepatah, tiada gading yang tak retak, yang artinya tiada makhluk yang sempurna di dunia ini. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari segenap pembaca sehingga makalah ini dapat digunakan dengan baik. Harapan penyusun semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan menambah pengetahuan terutama bagi penyusun serta bermanfaat bagi dunia pendidikan.

Denpasar, Desember 2011

Penyusun

DAFTAR ISI

 

Halaman Judul………………………………………………………………….   …1

Kata Pengatar……………………………………………………………………..2

Daftar Isi………………………………………………………………………….3

Bab 1. Pendahuluan

1.1  Latar Belakang……………………………………………………….4

1.2  Tujuan………………………………………………………………..4

Bab 2. Kajian Pustaka

2.1 Tinjauan Tentang Pengertian dan Sejarah Hari Ibu….………….……5

2.2 Tinjauan Tentang Karakter …………………………………….……5

2.2 Tinjauan Tentang Sumber Daya Manusia Berkualitas…………….…6

Bab 3. Pembahasan

3.1  Metodologi Pendekatan Kesetaraan Gender dan Emansipasi Wanita dalam Pembentukan Karakter…………………………………….…7

3.2  Momentum Hari Ibu sebagai Media Pembentukan Karakter……….9

Bab 4. Implikasi dan Rekomendasi

4.1 Implikasi……………………………………………………………..11

4.2 Rekomendasi………………………………………………………..11

Daftar Pustaka…………………………………………………………………..12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang

Pembentukan karakter tidak boleh diserahkan kepada lembaga pendidikan, sekolah-sekolah, dan jalur formal semata. Lebih banyak kebersamaan antara para ibu, orang tua dibandingkan kebersamaan anak-anak dengan para guru di sekolah. Berkaitan dengan hal tersebut, momentum Hari Ibu seperti misi yang diamanatkan Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959, seharusnya ditujukan untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas sumber daya manusia bangsa ini. Apa sebenarnya yang harus menjadi urgensi dalam pengimplementasian hari ibu tersebut kaitannya dengan pembangunan SDM yang berkarakter?

          Selain itu, ditengah keterbatasan wanita, ternyata wanita mampu untuk ikut berpartisipasi dalam dominasi dunia pria di Indonesia. Kita sudah sering melihat prestasi wanita dalam berbagai bidang seperti politik, sosial, teknologi, maupun olah raga. Walaupun masih banyak orang yang merendahkan kaum wanita namun mereka tetap dapat menunjukkan eksistensinya dalam berbagai bidang. Jika demikian apakah kita pantas untuk membatasi hak dan martabat kaum wanita?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kiranya menarik untuk dibahas. Dan dalam makalah ini, penulis mencoba untuk mengkaji pemecahan dari masalah-masalah klasik tersebut melalui berbagai perspektif/sudut pandang serta fakta-fakta yang terjadi di masyarakat dan aktualisasinya dalam momentum Hari Ibu.

1.2     Tujuan

Tulisan ini bertujuan untuk membangun karakter sumber daya manusia agar dapat memahami apa makna dari perayaan Hari Ibu ini sendiri. Hari ibu sebagai momentum menghargai jasa kaum ibu dan perempuan sebaiknya diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

 

2.1     Tinjauan Tentang Pengertian dan Sejarah Hari Ibu

Hari Ibu adalah hari peringatan atau perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya. Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya. Sejarah Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dalam Konggres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung yang kemudian dikenal sebagai Mandalabhakti Wanitatama di Jalan Adisucipto. Dan dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Peringatan 25 tahun Hari Ibu pada tahun 1953 dirayakan meriah di tak kurang dari 85 kota Indonesia, mulai dari Meulaboh sampai Ternate. Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.

2.2     Tinjauan Tentang Karakter

Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak.

Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter masyarakat dan karakter bangsa. Oleh karena itu, pengembangan karakter bangsa hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter individu seseorang. Akan tetapi, karena manusia hidup dalam ligkungan sosial dan budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang berangkutan. Artinya, pengembangan budaya dan karakter bangsa hanya dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan sosial,budaya masyarakat, dan budaya bangsa.

2.3     Tinjauan Tentang Sumber Daya Manusia Berkualitas

          Sumber daya manusia merupakan daya yang bersumber dari manusia yang dapat juga disebut tenaga atau kekuatan (energi atau power). Tenaga, daya, kemampuan atau kekuatan terdapat pula pada unsur alam yang lain, seperti tenaga air, tenaga uap, tenaga angin, tenaga matahari. Namun bila digunakan pada manusia daya itu dapat dipadankan dengan istilah manpower.

Membangun manusia berkualitas berarti membentuk manusia yang utuh dan bernilai positif yang dapat dilihat mulai dari aspek yang relatif mudah dibangun sampai ke aspek yang lebih rumit dan sukar dibangun atau membutuhkan waktu bangun yang relatif lama, yaitu mulai dari aspek fisik sampai kepada aspek akhlak atau moral.

Indikator kualitas yang dimaksudkan antara lain :

1. Berstamina tinggi sehingga mampun kerja keras

2. Tangguh dan ulet dalam menghadapi persoalan

3. Cerdas berpikir dan bertindak

4. Terampil dan memiliki kompetensi

5. Mandiri

6. Memiliki tanggung jawab

7. Produktif

8. Kreatif

9. Inovatif

10. Beorientasi ke masa depan

11. Disiplin

12. Berbudi

BAB III

PEMBAHASAN

 

 

3.1     Metodologi Pendekatan Kesetaraan Gender dan Emansipasi Wanita

          dalam Pembentukan Karakter

Sebelum menapaki peran ibu dalam upaya pembentukan karakter, perlu diingat kembali peran serta ibu secara umum dalam rumah tangga, yakni dalam bidang kesehatan, kebersihan, ahli gizi, keuangan, manajemen waktu, guru, dan psikologi.

Perlu diketahui, kesetaraan gender adalah kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan nasional, dan kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut.

Sebagaimana kita ketahui bersama di dunia Barat ataupun di Timur, perkembangan peradaban manusia tumbuh dalam lingkup budaya dan ideologi patriarki. Budaya dan ideologi bukan satu hal yang turun dari langit. la di bentuk oleh manusia dan disosialisasikan dari satu generasi ke generasi berikutnya.  Dalam budaya kita, seperti juga di banyak negara dunia ketiga lain, budaya patriarki masih sangat kental. Dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan terlebih lagi dalam budaya, keadaan ketimpangan, asimetris dan subordinatif terhadap perempuan tampak sangat jelas. Dalam kondisi yang seperti itu proses marjinalisasi terhadap perempuan terjadi pada gilirannya perempuan kehilangan otonomi atas dirinya. Eksploitasi serta kekerasan terjadi terhadap perempuan, baik di wilayah domestik maupun publik. Dalam situasi demikian, maka perbedaan, diskriminasi, dan ketidakadilan gender tumbuh dengan suburnya. Meskipun secara formal, dalam UUD 1945, hak laki-laki dan perempuan tidak dibedakan, tetapi dalam kenyataannya sangat berbeda.

Bagi masyarakat tradisional, patriarki di pandang sebagai hal yang tidak perlu dipermasalahkan, karena hal tersebut selalu dikaitkan dengan kodrat dan kekuasaaan adikodrat yang tidak terbantahkan.  Perempuan bertugas pokok membesarkan anak, laki-laki bertugas mencari nafkah. Perbedaan tersebut di pandang sebagai hal yang alamiah. Itu sebabnya ketimpangan yang melahirkan subordinasi perempuan pun dipandang sebagai hal yang alamiah pula. Hal tersebut bukan saja terjadi dalam keluarga, tetapi telah melebar ke dalam kehidupan masyarakat.

Dalam pendidikan yang merupakan proses yang sangat penting bagi pertumbuhan nalar seseorang, juga masih sangat patriarkis. Satu keluarga biasanya akan lebih memberikan prioritas kepada anak laki-Iaki karena ia adalah penerus keluarga sedangkan anak perempuan akan pindah dan masuk ke dalam keluarga lain. Pendidikan dalam keluarga pun mensosialisasikan bahwa bapak adalah sentral, sehingga secara tidak disadari akan mengecilkan peran perempuan dalam keluarga. Anak perempuan jarang dilibatkan dalam pembicaraan kebijakan keluarga sehingga sosialisasi pada norma-norma yang semacam itu akan berdampak pada pembentukan kepribadian dan sikapnya yang cenderung tidak terbuka.

Dalam bidang teknologi, hingga sekarang tidak cukup ramah terhadap perempuan. Anggapan bahwa teknologi merupakan tugas laki-laki saat ini menjadi trend dunia, teknologi masih male dominated, padahal dalam kemampuan perempuan tidak kalah, tetapi apakah masyarakat memberi peluang, kesempatan kepada perempuan, selain kaum perempuan diposisikan dipinggir “dikelas dua”, karenanya harus ada perjuangan keras melawan ideologi patriarki yang mengungkung perempuan.

Dalam hukum waris pengaruh adat dan agama tidak dapat diabaikan. Sekalipun dalam kenyataannya saudara perempuanlah yang mengurus rumah, bahkan ikut bekerja keras membantu orang tua guna menghidupi saudara lakilakinya, termasuk membiayai sekolah/ perantauannya.

Di bidang ekonomi, krisis ekonomi telah memarjinalkan perempuan dengan berbagai kebijakan pemerintah yang lebih ditujukan kepada kaum laki-laki dengan anggapan bahwa mereka adalah pencari nafkah. Sebagai contoh, kebijakan pekerjaan padat karya yang hanya melibatkan kaum laki-laki saja. Contoh lain, dalam data statistik, kita tidak menjumpai pendapatan selalu yang diciptakan oleh perempuan seperti menjahit, katering, atau pekerjaan dalam sektor informal. Selama ini data pendapatan selalu diambil dari para suami sebagai kepala keluarga, baik yang memiliki kerja formal ataupun informal. Padahal kita tahu banyak perempuan yang berhasil mendapatkan uang dengan cara kerja informal. Reformasi yang sedang berlangsung ini bukan hanya gerakan memerangi penindasan, otoritarianisme, ketidakadilan, dan sebagainya, yang bersifat non demokratis, tetapi kita harus melihatnya sebagai proses transisi menuju demokrasi.

Sekarang inilah kesempatan bagi kaum perempuan untuk mengaktualisasikan diri, serta segala bentuk subordinasi dan marjinalisasi bukan waktunya lagi tetap melekat pada diri kaum perempuan. ldeologi patriarkis telah melahirkan ketimpangan dan ketidakadilan gender  dalam berbagai bidang. Proses industrialisasi dan kemajuan teknologi informasi membawa dampak pada perubahan sosial pada peranan perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Jumlah kaum perempuan yang bekerja di luar rumah (di publik, sebagai Pegawai Negeri, di bidang Pemerintahan, Legislatif dan Yudikatif), semakin meningkat, di ikuti juga oleh fenomena meningkatnya jumlah perempuan yang menjadi kepala rumah tangga (Biro statistik “Strategi Kehidupan Perempuan Kepala Rumab Tangga”).

Fenomena meningkatnya jumlah perempuan yang bekerja memang diharapkan bahkan memang diharapkan bahkan didorong oleh negara lewat konsep ke mitrasejajaran pria dan wanita dalam GBHN . Diharapkan perempuan akan lebih banyak berpartisipasi dalam pembangunan untuk peningkatan pemberdayaan perempuan tidak saja untuk masa kini tetapi juga untuk masa yang akan datang agar tetap berkesinambungan dalam pembangunan berkelanjutan.

 

3.2     Momentum Hari Ibu sebagai Media Pembentukan Karakter

Para ibu berjasa dalam membangun nilai, watak dan perilaku anak Indonesia menjadi karakter bangsa yang bermoral tangguh dan unggul. Hari Ibu di Indonesia melebihi dari apa yang diperingati dan dipahami secara umum pada Mother’s Day di dunia internasional. Hari Ibu bagi bangsa Indonesia, lebih dilihat dari perspektif sejarah dan perjuangan kaum perempuan sebelum kemerdekaan Indonesia, yaitu semangat untuk mengubah bangsa menjadi lebih baik dan sekaligus menandai gerakan emansipasi. Karena merupakan cikal bakal dari gerakan perempuan Indonesia yang kemudian diperingati sebagai Hari Ibu Nasional.

Hari ibu dapat digunakan sebagai momentum pembentukan karakter, khususnya melalui pemahaman dan pengimplementasian peran ibu secara optimal:

1).     Hari kasih sayang

Hari Ibu diperingati secara beragam oleh masyarakat dunia. Ada yang memperingatinya sebagai Hari Ibu dengan nuansa kasih sayang kepada Ibu. Karakter yang bisa dibentuk adalah cinta kasih terhadap sesama, karena ibu sebagai media inisiasi/permulaan penerapan rasa kasih sayang tersebut.

2).     Pembentukan karakter religius

Ibu sedikit banyak memiliki peran sentral dalam pembentukan karakter religius. Ibulah yang memiliki waktu dan andil terbanyak dalam rumah tangga. Disinilah peran ibu untuk menanamkan nilai-nilai religius lewat kebiasaan-kebiasaan kepada anggota keluarga.

3).     Membentuk kader generasi muda berkualitas melalui kesehatan

Peranan ibu, perempuan untuk mendukung masalah gizi kurang dan buruk juga penting dalam menciptakan sumber daya manusia berkualitas sebagai salah satu cita-cita bangsa. Melalui program pemberian ASI eksklusif misalnya. Para ibu juga berperan dalam menciptakan generasi muda yang berkualitas melalui pemenuhan gizi dalam lingkungan keluarga.

4).     Membentuk karakter generasi muda yang cerdas dan bermoral

Anak-anak yang cerdas tumbuh dari ibu yang cerdas. Karena dalam lingkup keluarga, seorang anak sedikit banyak akan mengadopsi perilaku yang dibiasakan ibunya sebagai media informal yang paling sering dijumpainya. Untuk membetuk generasi yang cerdas dan bermoral, seorang ibu harus menerapkan perilaku demikian sedini mungkin.

5).     Menyadarkan kaum perempuan akan hak asasinya.

Era reformasi merupakan saat bagi kaum perempuan memperjuangka hak asasinya. Melalui hari ibu ini, harus disosialisasikan bahwa seorang perempuan harus memahami kesetaraan gender dalam kehidupannya. Bahwa kaum wanita memiliki hak yang sama dalam hal ekonomi, teknologi, sosial, budaya, bahkan politik. Kemampuan wanita juga tidak kalah hebatnya dengan laki-laki. Lihatlah beragam tokoh baik nasional maupun internasional yang telah berhasil mengangkat derajat kaum wanita dan mampu mengubah dunia, seperti R.A Kartini, Megawati Soekarno Putri, Sri Mulyani, Bunda Teresa, Oprah Winfrey, Margaret Thatcher, Benazir Bhutto, dan masih banyak lagi.  Mulai sekarang, kaum perempuan harus lebih berani mengeksplorasi kemampuan, mencoba berbagai macam pekerjaan yang selama ini hanya ditujukan bagi kaum laki-laki. Dengan demikian, sumber daya manusia akan termanfaatkan secara optimal dan tidak akan lagi muncul apa yang dinamakan sebagai diskriminasi.

Namun di balik peranan aktifnya itu, para ibu dan kaum perempuan umumnya, memerlukan perlindungan, pemberdayaan, dan peningkatan kemampuan. Langkah ini diperlukan agar para ibu bisa menjalankan kewajibannya membimbing dan mendidik putra-putrinya berperilaku dengan karakter yang lebih baik lagi.

Upaya-upaya penghapusan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan harus menjadi agenda utama penegakan hak asasi perempuan. Dengan mengingatkan peran serta ibu dalam pembentukan karakter pada hari ibu, baik melalui sosialisasi, seminar, dan lain-lain.

BAB IV

IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

 

 

4.1     Implikasi

–   Kesetaraan gender menjadi tonggak awal bagaimana kaum wanita mengerjakan sesuatu secara adil tanpa suatu diskriminasi sehingga pada perayaan Hari Ibu, perlu adanya penekanan terhadap penegakan kesetaraan gender tersebut.

–   Peran aktif para wanita sangat diharapkan dalam mengoptimalkan pembentukan karakter generasi muda, berbagai tokoh telah mengupayakan dan membuktikan hal tersebut sehingga kaum wanita harus menggalakkan emansipasi wanita.

–   Pembentukan karakter bukan semata didapat dari pendidikan formal, tetapi akan lebih efektif jika dimaksimalkan sedini mungkin dari tingkat keluarga, sehingga peran ibu sebagai media primer sangat mendukung upaya tersebut.

4.2     Rekomendasi

Rekomendasi dari tulisan ini, yaitu sebagai bangsa Indonesia modern yang berintelektual, kita harus menyadari bahwa di era reformasi, budaya patriarki harus dihilangkan agar tercapai keadilan yang berbasis kesetaraan gender. Selain itu, dalam perayaan Hari Ibu, berbagai kegiatan sosialisasi khususnya untuk meningkatkan kesadaran kaum wanita akan haknya dan kewajibannya untuk melanjutkan emansipasi, harus digalakkan baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://disqus.com/

http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Ibu

http://mariacherry.wordpress.com/2011/03/08/selamat-hari-perempuan-internasional/

http://sman1mtp.sch.id/index.php?option=com_content&view=article&id=90:kara kter-dan-budaya

http://www.okezone.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: