Namanya Dharma Abadi

7 Feb

*Juara 1 Lomba Cipta Cerpen Bulan Bahasa 2011 SMAN 1 Denpasar*

 

Apakah arti sebuah nama, kata Vilardiar suatu ketika. Anda percaya? Saya sama sekali tidak setuju dengan ungkapan itu. Seorang sahabat saya – yang menolak dibilang orang penting meskipun tamu-tamu yang datang ke rumahnya sebagian besar adalah para pejabat dan artis, yang sejak kanak-kanak sangat gemar laku prihatin, tapa brata, dan yang paling penting dalam hal ini adalah saya tahu persis bahwa dia tidak pernah membual – berkisah tentang seseorang yang diketahuinya luar dalam. Begini karib saya itu bercerita:

Senja itu yang masih nyangkut di kolong ingatan adalah dia sedang menunggu Neneng sambil leyeh-leyeh di tempat tidur mendut-mentul kamar villanya sangat mewah. Wanita yang dua bulan terakhir ini selalu menemaninya melewatkan malam minggu itu sungguh telah menuntaskan seleranya. Perawakan tinggi agak gemuk berkulit kuning langsat yang selalu terbalut kain kebaya ketat itu, wajah bulat telor mata blalak-blalak namun sayu penuh kepasrahan itu, senantiasa berhasil meledakkan kelelakiannya ke langit lapis tujuh di mana dia menobatkan dirinya sendiri menjadi lelananganing jagat, pria paling perkasa seantero muka bumi. Karto, body guard-nya, memang piawai mengejawantahkan imajinasinya tentang seorang perempuan.

Ruangan ini sungguh asing, namun dia tidak sempat berpikir tentang kamar pengap ini. Hatinya begitu saja mengendap, tintim. Di hadapannya – mereka dipisahkan oleh sebuah meja – duduk seorang laki-laki dengan tatapan menusuk, menerobos masuk dan menancap tepat di ulu hati. Wajah laki-laki itu sungguh sangat dikenalnya. Kepala lonjong, kulit putih, rambut klimis tertata rapi, tepat di atas alis kanan terdapat bekas luka menyilang sekitar dua senti, hidung yang mancung itu seolah terukir nyaris sempurna di atas mulut tipis menyentil sarat makna. Wajah itu sungguh tidak asing lagi baginya karena selalu muncul jika ia sedang bercermin. Ya, wajah itu adalah roman mukanya sendiri, Laki-laki itupun menggigil, dia merasa sedang duduk di depan cermin gaib yang sangat mengerikan.

“Si… si… siapa kau?” kalimat tanya yang bergetar ini baru berhasil dilontarkannya melalui perjuangan keras selama beberapa puluh detik. Lelaki di hadapannya menyeringai, mengejek dan melecehkan sesekali.

“Dharma Abadi,” dia mendengar suaranya sendiri keluar di antara seringai itu, “Ya, aku adalah namamu sendiri, Dharma Abadi. Yang bermakna kebaikan yang kekal, abadi yang dieluh-eluhkan manusia pada penciptanya. Kebaikan akan terus berbakti dan mengabdi kepada siapa saja, terus menerus, tanpa diminta, tiada mengharap balasan. “Tetapi apa yang telah kau perbuat terhadap nama besar itu Dharma? Di usiamu ke-19 tahun ini kau telah menenggelamkannya di dasar comberan.” Kemudian hening, sepasang mata itu masih menancap di wajah Dharma. Waktu yang merambat sangat pelan telah membantunya untuk menguasai diri. Keakuannya sebagai seorang artis populer serta penguasaha muda menggeliat membangkitkan rasa ketersinggungan. Laki-laki ini benar-benar kurang ajar. Seingatnya, pejabat sekalipun belum pernah memerlakukan dia seperti ini. Sebarisan sumpah serapah berteronjolan di ujung bibir, aneh, yang keluar adalah lenguhan tanpa arti, “ah… uh… ah…” Otaknya yang mendidih seperti akan segera meledakkan batok kepalanya. Tangannya mengepal, tetapi seperti mulutnya, tangan itu seperti terikat seutas tali yang tak terlihat. Yang deras keluar adalah keringat dari sekujur tubuh. Akhirnya disadarinya bahwa perlawanannya akan sia-sia, urat-uratnya pun mengendor, hati keras itu melintuh pasrah tanpa daya.

“Dulu kau memang pantas menyandang nama Dharma Abadi. Aku sungguh bangga melihat kepeloporanmu dalam membela kepentingan rakyat kecil. Aku masih suka membayangkan kepiawaianmu dalam berdebat dan beradu argumentasi dengan pihak eksekutif dan legislatif yang kompak mendukung pembuatan lapangan golf pertama di kabupaten ini. Engkaulah yang paling lantang menyatakan, apa gunanya kabupaten ini mempunyai lapangan golf, jika ratusan periuk nasi milik rakyat bergelimpangan karena tidak lagi mempunyai lahan garapan. Kau tahu, pada saat itu hampir semua orang tua di kabupaten ini bermimpi mempunyai anak laki-laki seperti kamu. Remaja yang cerdas, pandai mencari uang dan pahala. Mereka yakin kaulah kebaikan yang kekal di kehidupan mereka.”

Laki-laki di hadapanyya itu menghela nafas sejenak, mukanya berangsur memerah dan tiba-tiba kedua tangannya menggebrak meja keras-keras, sembari menunjuk-nunjuk jidat Dharma Abadi, dia berteriak. “Tetapi coba lihat apa yang engkau lakukan setelah menjadi artis dan pengusaha terkenal? Ternyata diantara yang rusak, engkaulah yang palingan bajingan di anatara mereka!” Daya dan kekuatannya pun kian tumpes tapis. Perasaan telah melakukan banyak dosa mulai menyeruak memenuhi rongga dada. Diam-diam nuraninya yang telah lama menyingkir entah kemana, muncul dan menyetujui semua umpatan laki-laki asing yang mirip betul dengan dirinya itu. Dadanya terasa sesak dan pelupuk matanya tidak mampu membendung air yang menyembul di bawahnya. Dharma Abadi menangis tersedu, setelah entah berapa tahun, tidak pernah menitikkan air mata.

Tepat empat tahun lalu, ketika Dharma masuk perguruan tinggi ternama di ibu kota. Ya, Dharma memang cerdas dan jenius. Bagaimana tidak? Dua kali lompat kelas semasa SMP dan SMA membuatnya menjadi mahasiswa baru Universitas Pelopor Bangsa Surabaya di usianya yang baru menginjak 15 tahun. Sesukat pikiran kembali ke masa itu. Ingat sekali, Dharma sedari kecil ingin menjadi orang kaya, banyak uang. Tak lain impiannya untuk mewujudkan angannya menyelamatkan orang miskin yang kelaparan, memberi sesuap nasi bagi penghuni kolong jembatan, menjadi pembela rakyat kecil yang kehilagan hak asasinya.

Satu tahun ia habiskan untuk menjadi aktivis HAM (Hak Asasi Manusia) di kampusnya. Demonstrasi menjadi makanannya setiap pagi, dan kantor polisi – yah, hanya sekadar lewat – latar belakang keluarga dibarengi kemampuan bisnis yang mumpuni membuat usaha kecil-kecilannya semasa SMP berkembang pesat. Ia pun menjadi pengusaha termuda di daerahnya.

Kian hari, kian bertambah kasus penyelewengan HAM yang ia temui. Ia tak urung diam. Saat itu sedang pemilihan Dewan Legislatif daerah – peluang besar untuk dapatkan uang sekaligus media perjuangan hak rakyatk kecil, pikirnya. Untuk meraih jabatan sangat bergengsi itu, Dharma mempertaruhkan segalanya, bahkan seluruh tanah dan mobil orangtuanya pun ikut terjual. Jika orang tua dan saudara-saudaranya mempertanyakan masalah ini, maka seutas kalimat pendek segera meluncur dari mulutnya, “Jer basuki mawa beya!” Biaya untuk menembus pusat kekuasaan, untuk anggota Dewan Legislatif Daerah, untuk peluncur, untuk kampanye dan untuk menyingkirkan para pesaingnya. Yang paling berat adalah ketika harus menyingkirkan saingan utamanya, doktorandus Juana Kara. Tak tahu-menahu, percaya tidak percaya. Tuan Juana lebih kaya dan lebih licik. Siapa tak tahu dukun kaki gunung? Sampai itupun Tuan Juana sambangi demi kemenangannya. Alhasil, hitungan di atas kertas menjadi kemenangan mutlak doktorandus Juana Kara.

Terperangak, membelalak. Dharma tidak percaya. Tapi, bukan Dharma namanya kalau menyerah. Pejabat, pikirnya bukan jabatan penghasil uang banyak, masih ada yang lainnya. Untung ia masih ingat, tujuan utamanya adalah kaya untuk rakyat kecil. Hampir frustasi, akal demi akal ia coba terjemahkan dalam satu konsepsi. Nah, wajah tampan, kemampuan acting. “Kenapa tak jadi artis saja kau Dhar… Dhar… Haha!” Dewi Fortuna sedang bersama Dharma. Jadilah ia seorang artis besar di usis 18 tahun. Kerja siang-malam, lupa waktu, lupa sembahyang, dan – astaga – khilaf! Dharma lupa tujuan awalnya, dunia keaartisan berhasil membuatnya terlena. Uang bukan lagi masalah rakyat, tapi masalah perut, Dharma oh Dharma.

Kini, di hadapan kembarannya yang entah datang dari mana itu, Dharma terguguk menyesali perbuatannya. Masa remajanya telah mengantarkan Dharma hampir menuju jurang Timira. Dia sama sekali tidak kuasa mengangkat wajah.

“Oke Dharma Abadi tuan saudagar dan seniman populer, jika tuan telah mengaku bersalah maka kali ini aku memaafkanmu. Sebagai hamba Tuhan, tuan mempunyai kesempatan untuk berbuat laksana kebenaran yang abadi, paling tidak bagi keluarga. Jika tuan masih saja menjadi sumber kegelapan, maka aku akan kembali untuk mencabut nama sekaligus nyawamu. Ingat Dharma Abadi, tidak aka nada kesempatan kedua!” Dharma Abadi terus saja menunduk, geremengan ucapan terima kasih terdengar samar dari mulutnya.

Tiba-tiba terdengar suara ketokan di pintu.

“Siapa?” tanya Dharma tergeragap sembari bangkit dari pembaringan.

“Karto, tuan,” sahut suara di balik pintu.

“Bah, rupanya aku hanya bermimpi,” sungut Dharma, “Ada apa, To?”

“Neneng sudah tiba, tuan,” sahut Karto, masih dari luar kamar.

“Perintahkan sopir siap-siap, malam ini kita menginap di wisma dalam kota saja. Di sisni terlalu dingin.”

“Neneng bagaimana, pak?”

“Bodoh kamu, ya kita bawa ke kota!”

Puja Tri Sandhya petang minggu tengah bergema, ketika sebuah sedan mewah berwarna merah meluncur keluar melintasi pintu gerbang sebuah villa megah di daerah wisata pegunungan itu. Di suatu tempat yang lain, pada waktu hampir bersamaan, seorang wanita setengah baya bersimpuh di depan merajan sembari mengadu pada Tuhannya, “Ya Tuhanku tunjukilah anak hambaMu yang sudah demikian jauh meninggalkan jalanMu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: